Thursday, February 18, 2016

Guru Non D4/S1 Akan Menjadi Tenaga Pendidikan

Guru atau pendidik di lingkungan Kementerian Agama RI yang dengan kualifikasi pendidikan di bawah D4 (Diploma 4) dan S1 (Strata 1) akan dialih fungsi menjadi tenaga pendidikan. Pengalihfungsian dari guru menjadi tenaga kependidikan tersebut akan dilakukan secara otomatis oleh sistem Simpatika.

Alih fungsi dari guru menjadi tenaga pendidikan ini akan dilaksanakan secara otomatis pada tanggal 1 Juli 2016, atau selepas berakhirnya masa verval Simpatika Semester Genap Tahun pelajaran 2015/2016.

Pemberitahuan tentang otomatisasi alih fungsi ini muncul di jendela peringatan saat kita login ke akun PTK yang terdeteksi oleh sistem Simpatika belum memenuhi kualifikasi pendidikan D4/S1.

Kualifikasi pendidikan Minimal di Simpatika
Guru-guru yang belum D4/S1 siap-siap menjadi Tenaga Kependidikan


Bunyi pengumuman tersebut adalah,

Sesuai UU no. 14 Tahun 2005 bahwa Kualifikasi Pendidikan Guru mulai 2016 minimal D4/S1. Untuk itu silakan melakukan proses pemutakhiran data portofolio bagian pendidikan akhir menjadi D4/S1 sesuai prosedur yang berlaku (S12). Bilamana belum dimutakhirkan data pendidikan terakhir dimaksud, sistem akan mengotomasi fungsi Guru menjadi fungsi Tenaga Kependidikan mulai 1 Juli 2016.

Otomatisasi ini pun berlaku bagi pendidik yang telah berkualifikasi pendidikan D4 atau S1 namun belum melakukan update portofolio pada bagian Riwayat Pendidikan.

Sehingga guru-guru yang dalam portofolio (Riwayat Pendidikan) di Simpatika, belum berkualifikasi pendidikan D4/S1 akan otomatis dialihfungsikan menjadi tenaga kependidikan.

Kenapa Ada Pembatasan Kualifikasi Pendidikan Guru Kemenag?


Pengumuman Alih Fungsi Otomatis
Bunyi pengumuman yang otomatis muncul di dasbor PTK yang belum berkualifikasi D4/S1 


Syarat kualifikasi pendidikan minimal bagi guru ini sempat ramai didengungkan pada 2015 silam. Tampaknya, Kementerian agama tidak main-main untuk melaksanakan pembatasan kualifikasi pendidikan ini.

Salah satunya adalah dengan melakukan otomatisasi alih fungsi dari guru menjadi tenaga kependidikan.

Hal ini merupakan amanat dari Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Dalam pasal 82 ayat (2) disebutkan bahwa,

"Guru yang belum memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada Undang-Undang ini, wajib memenuhi kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik paling lama 10 (sepuluh) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini."

Undang-undang ini diperkuat lagi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Pada pasal 63 ayat (1), berbunyi:

"Guru yang tidak dapat memenuhi kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sebagaimana ditentukan dalam Pasal 82 ayat (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen setelah yang bersangkutan diberi kesempatan untuk memenuhinya, kehilangan hak untuk mendapat tunjangan fungsional atau subsidi tunjangan fungsional dan maslahat tambahan,"

Kementerian Agama pun, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor SE/DJ.I/PP.00/9/2015 tentang Batas Waktu Pemenuhan Kualifikasi Akademik S1/D4, Rasio Peserta Didik Terhadap Guru RA/Madrasah dan Penilaian Prestasi Kerja Bagi Guru PNS.

Dampak Pembatasan Kualifikasi Pendidikan


Dampak utama dari otomatisasi alih fungsi berdasarkan kualifikasi pendidikan ini tentunya adalah tidak bisa tercatatnya jam mengajar guru-guru yang belum D4/S1.

Meskipun (seumpama) pada kenyataannya mereka tetap diberi kesempatan untuk mengajar, tetapi jam mengajar mereka tidak bisa dimasukkan dalam Jadwal Mengajar Mingguan di layanan Simpatika.

Sebagaimana kita ketahui, untuk dapat dimasukkan sebagai guru pengajar dalam Simpatika, seorang PTK harus berstatus sebagai pendidik atau guru. Jika berstatus sebagai tenaga kependidikan maka namanya tidak akan muncul dalam saat memilih nama guru di isian Jadwal Mengajar Mingguan.

Dengan tidak tercatat sebagai guru, pendidik tersebut akan kehilangan hak-haknya terkait dengan pemberian honor sebagai sebagai guru, tunjangan fungsional, dan berbagai maslahat tambahan.

Yang Harus Dilakukan


Jika guru tersebut telah memenuhi kualifikasi pendidikan D4/S1 tetapi belum tertulis di Riwayat Mengajar, segeralah update portofolio riwayat mengajar. Cetak S12 (Ajuan Perubahan Data) dan permanenkan perubahan tersebut dengan mengajukan S12 beserta lampiran pendukungnya ke Admin Simpatika Tingkat Kabupaten/Kota.

Jika tidak? Ya siap-siap menjadi tenaga kependidikan.

Bagaimana kalau kualifikasi pendidikan pendidik tersebut memang belum D4/S1?

Bagi guru-guru yang kualifikasi pendidikannya di bawah D4/S1, tampaknya 'tiada maaf bagimu'. Kalau masih tetap ngotot mengajar, itu mah tergantung kebijakan masing-masing Kepala Madrasah dan Yayasan (bagi madrasah swasta). Akan tetapi pada layanan Simpatika status guru tersebut adalah tenaga kependidikan! Dan itu tidak akan bisa ditawar.

Dengan beralih fungsi menjadi tenaga kependidikan tentunya akan kehilangan hak-haknya untuk mendapat honor sebagai sebagai guru, tunjangan fungsional, dan berbagai maslahat tambahan.

Pilihannya tinggal dua:

  1. Bertahan di madrasah dengan status sebagai tenaga kependidikan, atau
  2. Balik kanan dan mensupport dari luar madrasah


Mau tidak mau warga madrasah harus menerima pemberlakuan otomatisasi alih fungsi bagi guru yang belum berkualifikasi pendidikan D4/S1 menjadi tenaga kependidikan.

Tidak usah berdemo kepada pemerintah apalagi Kementerian Agama. Karena hal ini telah menjadi amanat Undang-undang sejak 2005 silam. Dan kita telah diberi kesempatan untuk memenuhinya selama 10 tahun.

TULIS KOMENTAR DENGAN MENGGUNAKAN FACEBOOK
Tulis Komentar, klik di Sini

0 comments