Wednesday, March 30, 2016

Nasib PNS yang Menjabat Kamad di Madrasah Swasta

Nasib guru PNS yang menjabat Kepala Madrasah di Madrasah swasta, menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian pihak. Utamanya dengan diberlakukannya SKMT dan SKBK Online pada layanan Simpatika.

Ada apa dengan nasib para guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diangkat menjadi Kepala Madrasah?

Terkait dengan Kepala Madrasah, Kementerian Agama Republik Indonesia telah mengeluarkan regulasi melalui Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2014 tentang Kepala Madrasah.

Bab I terutama Pasal (1) dan (2) PMA Nomor 29 Tahun 2014 tersebut memberikan pembagian dengan pembatasan yang jelas, yaitu:

  1. Kepala Madrasah PNS pada Madrasah yang diselenggarakan oleh pemerintah (diangkat oleh pemerintah pada madrasah yang diselenggarakan pemerintah atau Madrasah Negeri)
  2. Kepala Madrasah Non PNS pada Madrasah yang diselenggarakan oleh masyarakat (diangkat oleh pejabat yang berwenang pada organisasi penyelenggara pendidikan madrasah yang diselenggarakan oleh masyarakat).
    (selengkapnya silakan baca Bab I Pasal (1) dan (2) PMA No. 29 Tahun 2014 tentang Kepala Madrasah).
Secara singkat, uraian pada pasal-pasal tersebut menegaskan bahwa Guru PNS hanya bisa menjabat sebagai Kepala Madrasah di Madrasah Negeri. Dan Guru PNS tidak boleh menjabat sebagai Kepala Madrasah di Madrasah Swasta.

Kepala Madrasah PNS di Madrasah Swasta


Bolehkah guru PNS menjabat sebagai Kamad di Madrasah swasta?

Untuk menjawabnya, simak juga pada Bab IX (Ketentuan Peralihan), Pasal 16. PMA No. 29 Tahun 2014 Pasal 16 berbunyi:

Kepala Madrasah yang diangkat sebelum berlakunya Peraturan Menteri Agama ini tetap menjalankan tugasnya sampai dengan paling lama 3 (tiga) tahun terhitung mulai dari tanggal diundangkannya Peraturan Menteri Agama ini.

PMA No. 29 Tahun 2014 tentang Kepala Madrasah ini ditetapkan pada tanggal 15 September 2014.

Jadi, bolehkah guru PNS menjabat sebagai Kepala Madrasah di Madrasah swasta?

Jika guru PNS tersebut diangkat sebagai Kepala Madrasah di Madrasah swasta sebelum tanggal 15 September 2014 maka diperbolehkan menjalankan tugasnya sebagai Kepala Madrasah hingga 14 September 2017. 

Jika guru PNS tersebut diangkat sebagai Kepala Madrasah di Madrasah swasta setelah tanggal 15 September 2014 maka tidak boleh!

Nasib Kamad PNS Terkait dengan Simpatika dan SKBK Online


Terkait dengan layanan Simpatika, pada semester 1 Tahun 2015/2016, kasus ini sempat mengemuka meskipun kemudian menguap dengan sendirinya. Namun pada periode verval Simpatika Semester 2 Tahun 2015/2016 ini, kasus ini mendapatkan perlakuan yang tegas. Perlakuan itu adalah sebagai berikut.

Pengangkatan Kepala Madrasah Baru;

Sistem layanan Simpatika akan langsung menolak jika guru PNS diangkat menjadi Kepala Madrasah di Madrasah swasta. Sedang yang terlanjur diangkat sebelum masa verval ini tetap bisa menjabat sebagai Kepala Madrasah.

Kepala Madrasah PNS di Madrasah Swasta
S25a Kepala Madrasah PNS di Madrasah Swasta ekuivalensi tugas tambahannya tidak dihitung 

Kepala Madrasah PNS di Madrasah Swasta



Penghitungan Ekuivalen Tugas Tambahan;
  1. Dihitung ekuivalen 18 JTM jika pengangkatan guru PNS tersebut sebagai Kepala Madrasah di Madrasah swasta dilakukan sebelum berlakunya PMA Nomor 29 Tahun 2014
  2. Tidak dihitung ekuivalen 18 JTM jika pengangkatannya dilakukan setelah pemberlakuan PMA Nomor 29 Tahun 2014.

Guru PNS yang diangkat sebagai Kamad di Madrasah swasta sebelum tanggal 15 September 2014, jam ekuivalen tugas tambahan Kepala Madrasah (sebanyak 18 JTM) akan tetap muncul di Cetak Ajuan S25a, SKMT, dan SKBK. Sehingga sesuai dengan KMA Nomor 103 Tahun 2015 tentang Pedoman Pemenuhan Beban Kerja Guru Madrasah yang Bersrtifikat Pendidik, Kepala Madrasah tersebut cukup mengajar paling sedikit 6 (enam) JTM perminggu atau membimbing 40 (empat puluh) peserta didik (bagi Kamad dari guru BK) untuk dapat memenuhi beban kerja 24 JTM sebagai syarat Tunjangan Profesi Guru.

Guru PNS yang diangkat sebagai Kamad di Madrasah swasta setelah tanggal 15 September 2014, jam ekuivalen tugas tambahannya sebagai Kepala Madrasah tidak dihitung. Dalam Lampiran S25a, SKMT, dan SKBK akan tertulis 0 (nol).

Sehingga bagi guru ini, untuk memenuhi beban mengajar 24 JTM harus mengajar sebanyak 24 JTM perminggu atau membimbing minimal 150 siswa (bagi Kamad dari guru BK), layaknya guru yang tidak memiliki tugas tambahan.

Ketegasan sistem Simpatika ini bisa jadi merugikan bagi guru PNS menjabat sebagai Kamad di Madrasah swasta. Tetapi, toh yang namanya peraturan dibuat untuk dipatuhi. Selama ini mungkin saja PMA No. 29 Tahun 2014 (yang telah berlaku hampir dua tahun) kurang 'bergigi', mungkin dengan kehadiran Simpatika, PMA tersebut punya 'taring baru'.
Read more

Tuesday, March 22, 2016

Cara Cetak Ulang Kartu Simpatika Semester yang Lalu

Bisakah kita mencetak kartu Simpatika semester yang lalu atau semester yang sebelumnya? Jawabnya, bisa! Meskipun cara mencetaknya akan sedikit berbeda dengan cara cetak kartu simpatika semester saat ini (yang berjalan).

Tapi baik mencetak kartu Simpatika semester saat ini ataupun mencetak ulang kartu semester yang sebelumnya, sebenarnya sama-sama mudahnya.

Cara Cetak Kartu Simpatika Semester Lalu


Sebagaimana kita ketahui, Kartu Simpatika atau disebut juga sebagai Kartu PTK, dulu disebut juga ebagai Kartu NUPTK atau Kartu GTK, merupakan salah satu bukti keaktifan seorang PTK dalam sebuah semester di layanan Simpatika. Hanya PTK yang telah melakukan pengaktifan diri yang dapat mencetak kartu ini. Kartu ini hanya berlaku selama satu semester.

Karena itu, kerap kali kartu ini dijadikan sebagai salah satu syarat dan kelengkapan berkas administrasi dalam berbagai program pengembangan dan kesejahteraan gutu dan tenaga kependidikan di Kementerian Agama. Salah satunya adalah untuk pemberkasan pencairan Tunjangan Profesi.

Walaupun kartu ini hanya berlaku satu semester, namun kerap kali, dalam prakteknya, Kartu Simpatika semester-semester yang sebelumnya harus ikut disertakan untuk membuktikan keaktifan seorang PTK pada semester yang dimaksud.

Contohnya dalam pemberkasan Tunjangan Profesi Tahun Anggaran 2015 yang baru akan dicairkan tahun ini. Pengajuan berkas pencairan tunjangan ini bisa jadi mensyaratkan foto copy Kartu Simpatika Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 dan Kartu Simpatika Semester 1 Tahun Pelajaran 2015/2016. Berarti yang harus dilampirkan adalah Kartu Simpatika dua semester yang telah lalu.

Kalau PTK tersebut masih memiliki arsip, tentu tidak menjadi masalah. Namun jika arsip kartu tersebut telah hilang, apa yang harus dilakukan? Apakah bisa PTK mencetak ulang Kartu Simpatika semester-semester yang lalu?

Sekali lagi, bisa!

Cara Mencetak Ulang Kartu Simpatika Semester Sebelumnya


Untuk mencetak Kartu Simpatika semester yang lalu, sungguh sangat mudah. Sama halnya ketika kita ingin mencetak ulang Jadwal Mengajar pada semester sebelumnya, Kartu tersebut dapat dicetak melalui akun PTK di layanan Simpatika masing-masing PTK.

Sebagaimana pernah diterangkan dalam artikel Tampilan Kartu Simpatika Semester 2 2015/2016 dan Sebelumnya, layanan Simpatika (dulunya Padamu Negeri) telah memiliki 4 semester Kartu Simpatika. Keempatnya terdiri atas:

  1. Kartu Simpatika Periode Semester 1 Tahun pelajaran 2014/2015
  2. Kartu Simpatika Periode Semester 2 Tahun pelajaran 2014/2015
  3. Kartu Simpatika Periode Semester 1 Tahun pelajaran 2015/2016
  4. Kartu Simpatika Periode Semester 2 Tahun pelajaran 2015/2016


Adapun cara untuk mencetak kartu semester sebelumnya tersebut adalah sebagaimana dicontohkan dalam video tutorial Simpatika berikut ini.


Nah, ternyata sangat mudah dan gampang untuk melakukan cetak ulang Kartu Simpatika untuk semester-semester sebelumnya.

Baca Juga:

Read more

Monday, March 21, 2016

Cara dan Prosedur Pengesahan Ajuan SKMT PTK oleh Kepala Madrasah

Prosedur dan cara pengesahan Ajuan SKMT PTK oleh Kepala Madrasah/Sekolah akhirnya dirilis oleh Tim Pusat Simpatika. Pengesahan Ajuan SKMT ini merupakan tahapan kedua untuk memperoleh SKBK, setelah mencetak SKMT.

SKMT (Surat Keterangan Melaksanakan Tugas) dan SKBK (Surat Keterangan Beban Kerja) adalah fitur Simpatika yang menjadi parameter apakah seorang PTK layak mendapatkan tunjangan atau tidak.

Setelah PTK mencetak SKMT, masih harus melalui beberapa tahapan hingga akhirnya mendapatkan SKBK. Salah satu tahapan tersebut adalah Pengesahan SKMT dan Penilaian SKMT yang dilakukan oleh Kepala Madrasah tempat PTK tersebut mengajar, baik Satminkal maupun non-satminkal.

Hasil dari penilaian SKMT ini yang kemudian dicetak dan dilampirkan untuk diajukan ke Admin kabupaten/Kota untuk mendapatkan SKBK.


Pengesahan Ajuan SKMT

Baca : Kenapa Ajuan SKMT & SKBK Tidak Linear?

Cara Mengesahkan dan Menilai Ajuan SKMT PTK


Setelah PTK melakukan pencetakan SKMT (S29a/b/c), maka daftar ajuan tersebut otomatis akan muncul di akun PTK Kepala Madrasah tempat PTK tersebut mengajar.

Kepala Madrasah dapat melakukan penilaian dan mencetak Lampiran SKMT.

Adapun langkah-langkah untuk melakukan pengesahan Ajuan SKMT PTK adalah sebagaimana video tutorial berikut ini.




  1. Pertama Kepala Madrasah harus login ke Simpatika dan memilih Layanan Simpatika PTK.
  2. Setelah masuk ke dasbor PTK Kepala Madrasah/PTK, pilih menu SKBK & SKMT
  3. Muncul halaman Ajuan SKBK & Pengesahan SKMT
  4. Di bagian atas terdapat dua menu yaitu Pengajuan SKBK dan Pengesahan SKMT. Pengajuan SKBK diggunakan oleh Kepala Madrasah untuk mencetak SKMT yang bersangkutan (Kepala Madrasah), sedang menu kedua, Pengesahan SKMT, digunakan untuk menilai, mengeshkan, dan mencetak Ajuan SKMT para PTK di Madrasah tersebut termasuk Ajuan SKMT Kepala Madrasah.
  5. Klik menu Pengesahan SKMT
  6. Muncul daftar PTK di Madrsah yang dipimpin yang telah mengajukan SKMT & SKBK.
  7. Klik tombol 'Pengesahan' pada masing-masing PTK untuk mulai menilai dan mengesahkan SKMT
  8. Muncul kotak dialog 'Formuir Penilaian Kinerja'. Isi kolom penilaian dengan rentang nilai sebagai berikut:
    a. <= 50, dengan kategori Kurang
    b. 51 s.d 60, dengan kategori Sedang
    c. 61 s.d 75, dengan kategori Cukup
    d. 76 s.d 90, dengan kategori Baik
    e. 91 s.d 100, dengan kategori Amat Baik
  9. Jika sudah terisi semua, tinggal klik 'Cetak'

Mengedit Penilaian dan Membatalkan Pengesahan SKMT


Dasbor Pengesahan SKMT


Setelah Kepala Madrasah menilai dan mengesahkan Ajuan SKMT PTK, Kepala Madrasah dapat mengedit dan membatalkan ajuan tersebut. Dengan syarat PTK belum mencetak Surat Pengantar Ajuan SKBK.

Cara mengedit dan membatalkan Penilaian dan Pengesahan SKMT dapat dilihat di video tutorial di atas.

Baca Juga: Prosedur dan Cara Membatalkan SKMT dan SKBK

Tahapan Berikutnya...


Setelah PTK mencetak SKMT dan Kepala Madrasah pun telah menilai dan mengesahkan SKMT tersebut apa yang harus dilakukan oleh PTK?

  1. Jika PTK memiliki sekolah non-induk, pastikan setiap Kepala Madrasah tempat PTK mengajar telah mengesahkan SKMT. Untuk mengecek status pengesahan bisa dilihat di akun PTK masing-masing.
  2. Setelah disahkan dan mendapatkan Lampiran SKMT (berisikan hasil penilaian), PTK login ke akun masing-masing untuk mencetak Surat Pengantar Ajuan SKBK.
    Catatan : Setelah PTK mencetak Surat Pengantar Ajuan SKBK, maka SKMT dari Madrasah/Sekolah akan TERKUNCI dan tidak dapat diedit kembali selama PTK tidak membatalkan ajuan SKBK. (Saat artikel ini dibuat, tombol Cetak Surat Pengantar Ajuan SKBK belu aktif).
  3. SKMT (S29a/b/c), Lampiran SKMT, dan Surat Pengantar Ajuan SKBK ditandantangani oleh PTK yang bersangkutan, Kepala Madrasah, dan Pengawas.
  4. SKMT (S29a/b/c), Lampiran SKMT, dan Surat Pengantar Ajuan SKBK diajukan ke Admin Kabupaten/Kota.
  5. Admin Kabupaten/Kota menerbitkan SKBK atau Surat Keterangan Beban Kerja

Itulah prosedur dan cara mengesahkan SKMT PTK oleh Kepala Madrasah, lengkap dengan cara penilaian SKMT, mengedit penilaian SKMT, membatalkan pengesahan SKMT, dan prosedur lanjutan hingga PTK mendapatkan SKBK (Surat Keterangan Beban Kerja).


Read more

Tuesday, March 15, 2016

Status NRG Belum Permanen Jangan Cetak SKMT & SKBK (S29)

Memiliki NRG dan telah melakukan verval NRG di Simpatika tetapi belum permanen? Jangan buru-buru untuk mencetak Ajuan SKMT dan SKBK (S25a, S25b, atau S25c). Paling tidak, jika status Verval NRG belum permanen, baca dulu artikel ini hingga tuntas.

Kenapa?

SKMT (Surat Keterangan Melaksanakan Tugas) dan SKBK (Surat Keterangan Beban Kerja) adalah fitur yang disediakan oleh Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama melalui Simpatika, sebagai parameter apakah seorang PTK layak mendapat tunjangan atau tidak.

Melalui akun PTK di layanan Simpatika masing-masing, setiap pendidik dapat mencetak SKMT (Surat Keterangan Melaksanakan Tugas). Setelah Ajuan SKMT dinilai dan disetujui oleh Kepala Madrasah dan disahkan oleh Pengawas, SKMT tersebut dapat diajukan ke Admin Simpatika Kabupaten/Kota untuk mendapatkan SKBK (Surat Keterangan Beban Kerja). Selengkapnya, baca : Prosedur dan Cara Cetak SKMT & SKBK.

Status NRG dan SKMT SKBK


SKBK inilah kemudian yang menjadi parameter apakah seorang PTK layak mendapat tunjangan atau tidak. Di dalamnya akan memuat daftar mata pelajaran dan tugas tambahan yang jam mengajarnya diakui dan diperhitungkan dalam 'pemenuhan beban kerja'. Jika jam mengajar tersebut linear dengan Sertifikat Pendidik (NRG) dan memenuhi 24 jam tatap muka per minggu maka yang bersangkutan dinyatakan berhak untuk mendapat tunjangan.

Jika sebaliknya, tidak dapat memenuhi 24 JTM, atau memenuhi tetapi tidak linier dengan NRG yang dimiliki maka yang bersangkutan dinyatakan tidak berhak untuk mendapat tunjangan.

Parameter linieritas dalam SKMT dan SKBK selain kesesuaian mata pelajaran yang diampu dengan mapel dalam Sertifikat Pendidik yang dimiliki pun tergantung status Verval NRG yang dilakukan di layanan Simpatika.

Jika status verval tersebut telah permanen atau disetujui, maka akan linier. tetapi jika Verval NRG belum disetujui atau NRG belum permanen maka bisa dipastikan tidak akan linier.

Untuk mengetahui status Verval NRG sudah permanen atau belum, simak video berikut ini:



Baca juga: Sudah Verval NRG Tahun 2015 Haruskah Verval Lagi?

Tunggu Hingga Verval NRG Permanen!


Ya, tunggu hingga proses Verval NRG selesai dan NRG yang dimiliki tersebut disetujui atau permenan terlebih dahulu. Setelah itu baru lakukan Ajuan SKMT dan SKBK.

Singkatnya, Jangan melakukan cetak SKMT apalagi hingga mengajukan SKBK jika status Verval NRG belum permanen.

Kenapa tidak boleh mencetak SKMT dan SKBK jika NRG belum permanen?

Alasannya:

  1. SKMT dan SKBK tidak linier. Percuma memiliki SKBK jika di dalam SKBK itu guru tersebut dinyatakan tidak berhak mendapat tunjangan gara-gara semua mapelnya tidak linear dengan NRG, karena NRG -nya belum tuntas Verval (belum permanen). 
  2. Kalau toh, setelah NRG disetujui (permanen) SKBK dapat dibatalkan dan melakukan ajuan ulang akan tetapi proses pembatalan SKBK harus melalui proses yang panjang karena melibatkan Admin Simpatika tingkat Kabupaten/Kota.

Berapa Lama Verval NRG Disetujui?


Nah ini pertanyaan berikutnya. Jika kita harus menunggu NRG menjadi permanden terlebih dahulu, terus berapa lama waktu yang dibutuhkan agar NRG menjadi permanen?

Persetujuan dan penerbitan ajuan NRG menjadi kewenangan Admin Simpatika di tingkat Kanwil Kemenag tempat PTK berada. Berapa lama waktu yang dibutuhkan hanya Admin Kanwil Kemenag yang tahu.

Padahal menunggu adalah hal yang sangat membosankan.

Yup, karena itu jangan bosan-bosan untuk berkoordinasi dengan Admin Simpatika di tingkat Kabupaten/Kota agar proaktif mengawal proses Verval NRG hingga ke tingkat Kanwil Kemenag.

Kalau Menunggu Bagaimana dengan Ajuan SKMT Guru Lain?



Lalu bagaimana dengan ajuan SKMT guru lainnya? Apakah harus menunggu guru yang NRG-nya belum permanen tersebut?

Ajuan SKMT dan SKBK guru yang telah linier tidak perlu menunggu guru yang memiliki NRG tetapi belum permanen. Tinggal saja guru tersebut. Toh nanti setelah NRG yang dimilikinya menjadi permanen ia akan bisa langsung mencetak SKMT dan Ajuan SKBK.

Berarti saat guru tersebut menyusul mencetak SKMT dan Ajuan SKBK, Kepala Madrasah tidak perlu membatalkan S25a (Keaktifan Kolektif). Ajuan SKMT dan SKBK bersifat realtime. Sehingga jika sebelumnya berstatus 'tidak linier' karena faktor 'NRG belum permanen' maka akan otomatis menyesuaikan menjadi 'linier' saat 'NRG telah permanen'.

Tentunya dengan syarat jam mengajar yang diampu guru tersebut telah dimasukkan dengan benar dalam Jadwal Kelas di layanan Simpatika. Baik jumlah jam maupun linieritas mapel yang diampu dengan sertifikat pendidik yang dimiliki.


Sabar, PTK sabar di sayang Simpatika!
Read more

Saturday, March 12, 2016

Solusi untuk Pelajaran Mulok di Layanan Simpatika

Dengan diberlakukannya Validasi Alokasi Jam Mengajar di Simpatika membuat banyak madrasah yang kebingungan. Wajar, karena Simpatika membatasi pelajaran mulok (Muatan Lokal) hanya sebanyak 2 JTM. Padahal, pada kenyataannya hampir semua madrasah menyelenggarakan lebih dari satu pelajaran Muatan Lokal (Mulok) dengan alokasi masing-masing 2 JTM perminggunya.

Jika alokasi mata pelajaran Mulok dibatasi hanya 2 JTM, kemudian bagaimana nasib mulok-mulok yang selama ini telah diajarkan?

Padahal, kerap kali kita jumpai berbagai jenis pelajaran mulok yang telah diajarkan di setiap jenjang madrasah mulai dari MI, MTs, hingga MA. Tidak jarang mulok-mulok tersebut dikategorikan menjadi: Mulok Tingkat Provinsi (seperti Bahasa Daerah); Mulok Tingkat Kabupaten/Kota; dan Mulok Tingkat Madrasah (yang ragam jenisnya bisa bermacam-macam).

Berbagai jenis dan macam pelajaran mulok yang biasa digunakan di madrasah diantaranya adalah:

  1. Bahasa Daerah
  2. Bahasa Inggris (untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah)
  3. TIK (Teknik Informatika Komputer)
  4. Baca Tulis Al Quran (BTA)
  5. Ke-NU-an
  6. Tafsir
  7. Mahfudhot
  8. Nahwu Shorof
  9. dll.

Mulok di Simpatika


Paling tidqak setiap madrasah masih menyelenggarakan minimal 2 jenis pelajaran Mulok yang masing-masing diajarkan selama 2 JTM perminggunya. Padahal di layanan Simpatika, mulok hanya dialokasikan 2 JTM.

Baca juga: Aturan dan Cara Tambah & Edit Jadwal Mengajar Semester Sebelumnya

Kenapa Mulok Hanya 2 JTM?


Madrasah menyelenggarakan mulok hingga lebih dari 2 JTM bisa jadi karena adanya klausul pada Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 yang memberikan kewenangan madrasah dan sekolah untuk menambah jam pelajaran hingga 4 JTM secara keseluruhan per-minggu.

Berarti boleh menambah jam hingga 4 JTM, dong?

Tunggu dulu!

Meskipun hal tersebut diperbolehkan menurut Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006, tetapi ternyata ketentuan itu (penambahan hingga maksimal 4 JTM) tidak termuat dalam Permenag Nomor 2 Tahun 2008.

Tidak disebutkannya kewenangan madrasah untuk menambah jam pelajaran hingga 4 JTM sebenarnya karena Permenag Nomor 2 Tahun 2008 sendiri secara tidak langsung telah mengakomodirnya. Pelajaran PAI di madrasah telah dipecah-pecah menjadi berbagai jenis seperti Quran Hadits, Akidah Akhlak, Fikih, hingga Sejarah Kebudayaan Islam, serta penambahan pelajaran Bahasa Arab yang jika ditotal jumlahnya bahkan melebihi ketentuan 'boleh menambah hingga 4 JTM'.

Solusi?


Lalu, bagaimana solusinya?

Haruskan muatan lokal tersebut dikurangi dan dihapus? Kalau tidak bagaimana cara memasukkannya dalam Jadwal Mengajar Mingguan di Simpatika?.

Dengan alokasi JTM dan ketentuan tentang kurikulum yang digunakan di Simpatika (sebagaimana dokumen Standar Implementasi Kurikulum Madrasah di Simpatika yang dirilis Simpatika pada 8 Maret 2016), mau tidak mau, madrasah hanya bisa memasukkan satu jenis muatan lokal saja di dalam isian Jadwal Kelas Mingguan.

Mulok lainnya bagaimana?

Jenis dan ragam pelajaran mulok lainnya dapat diakomodir menjadi kegiatan ekstrakurikuler dan pembimbingan kokurikuler.

Dalam KMA Nomor 103 Tahun 2015 tentang Pedoman Pemenuhan Beban Kerja Guru Madrasah yang Bersertifikat Pendidik salah satunya mengatur tugas tambahan guru dalam kegiatan pembelajaran kokurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler.

Pembimbingan Kokurikuler


Kegiatan yang dapat dimasukkan sebagai kokurikuler dan diakui sebagai jam tambahan bagi guru antara lain:
  1. Bimbingan Baca Tulis Al Quran untuk mata pelajaran Al Quran Hadits
  2. Bimbingan Kaligrafi Arab untuk mata pelajaran Bahasa Arab
  3. Bimbingan Seni Tari, Drama (Teater), dan seni Pertunjukkan untuk mata pelajaran Seni dan Budaya.
Setiap kegiatan kokurikuler tersebut ekuvalen dengan 2 (dua) JTM per minggu untuk kegiatan yang diikuti sedikitnya oleh 15 siswa perkelompoknya. Dan setiap kelompok dibimbing oleh seorang guru.

Jadi mata pelajaran muatan lokal seperti Baca Tulis Al Quran (dan mungkin yang sejenis seperti Nahwu Shorof) dapat dialihkan menjadi kegiatan pembelajaran kokurikuler.

Kegiatan Ekstrakurikuler


Kegiatan ektrakurikuler disetarakan dengan 2 (dua) JTM perminggunya. Dengan syarat kegiatan tersebut diikuti oleh sedikitnya 15 (lima belas) siswa. Masing-masing kegiatan ekstrakurikuler dibimbing oleh seorang pembimbing. Dan jika kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 50 siswa, maka dapat dibimbing oleh 2 (dua) orang pembimbing dan berlaku untuk kelipatannya. Setiap guru hanya dapat membimbing maksimal 2 jenis kegiatan ekstrakurikuler.

Mata pelajaran mulok dapat dialihkan menjadi kegiatan ekstrakurikuler. Tentunya dengan tetap mengacu pada KMA Nomor 103 Tahun 2015.

Cara Set Jam Tambahan Ekstrakurikuler dan Kokurikuler


Untuk cara melakukan set atau menambah jam tambahan ekuivalensi ektrakurikuler dan kokurikuler, simak video tutorial berikut ini.



Paparan di atas setidaknya bisa menjadi sedikit solusi terbatas pelajaran mulok bagi madrasah yang diakomodir Simpatika. Meskipun harus diakui, solusi tersebut belum tentu memuaskan semua pihak.

Dan tentunya, dalam penyusunan Jadwal Mengajar di Simpatika (termasuk terkait pelajaran mulok) jangan lupa untuk melakukan koordinasi dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota setempat atau Pengawas Madrasah masing-masing.
Read more

Wednesday, March 9, 2016

Struktur Kurikulum RA untuk Menyusun Jadwal Kelas di Simpatika

Struktur Kurikulum RA yang digunakan dalam Simpatika sempat membuat Kepala RA, Guru RA, dan Operator RA galau. Meskipun ke-galau-an itu terjadi pula pada jenjang madrasah lainnya.

Struktur kurikulum yang digunakan Raudlatul Athfal (RA) menimbulkan tanda tanya. Apalagi ketika sampai berhari-hari sistem layanan Simpatika memberikan 'jatah' 0 (nol) JTM pada Validasi Alokasi Jam Mengajar, khusus di RA.

Padahal struktur kurikulum akan sangat penting dalam pengisian Jadwal Kelas Mingguan, yang akan berpengaruh langsung pada Ajuan S25a (Keaktifan Kolektif), Cetak SKMT dan SKBK, dan linieritas

Untungnya pada Selasa kemarin (8/3/2016), Tim Simpatika Pusat merilis dokumen tentang Standar Implementasi Kurikulum Madrasah di Simpatika Versi 1.0 yang di dalamnya juga memuat Kurikulum RA.

Bersama dengan Struktur Kurikulum MI juga dirilis struktur kurikulum untuk jenjang pendidikan lainnya mulai dari:

  1. Struktur Kurikulum untuk MI
  2. Struktur Kurikulum untuk MTs
  3. Struktur Kurikulum untuk MA


Struktur Kurikulum RA


Kurikulum RA


Membaca dokumen Standar Implementasi Kurikulum Madrasah di Simpatika Versi 1.0, dapat disimpulkan beberapa hal terkait kurikulum RA.

  1. Kurikulum di RA berbasis Tematik.
  2. Durasi 1 Jam Pelajaran di RA adalah 30 menit
  3. Durasi minimal pembelajaran di RA adalah 150 menit perhari. Ini artinya perharinya terdiri atas 5 JTM
  4. Durasi maksimal pembelajaran di RA adalah 180 menit. Ini artinya perharinya terdiri atas 6 JTM
  5. Dengan durasi tersebut Alokasi JTM di RA perminggunya adalah antara 30 JTM (minimal) hingga 36 JTM (maksimal).

Untuk mendownload dokumen Standar Implementasi Kurikulum Madrasah di Simpatika Versi 1.0 selengkapnya, klik DI SINI.

Mata Pelajaran di RA


Mata pelajaran di RA lebih tepatnya disebut sebagai bidang pengembangan. Bidang pengembangan ini dikelompokkan dalam dua bidang, yaitu:

  1. Bidang Pengembangan Pembentukan Perilaku, yang meliputi:
    • Akhlakul Karimah
    • Sosial Emosional
    • Kemandirian
  2. Bidang Pengembangan Kemampuan Dasar, yang meliputi:
    • Pendidikan Agama Islam
    • Bahasa
    • Kognitif
    • Fisik

Karena pembelajaran di RA berbasiskan tematik, maka bidang pengembangan tersebut diselenggarakan secara terpadu berdasarkan kesesuaian tema dan sub tema antar masing-masing bidang pengembangan.

Artinya, mata pelajaran dalam RA hanya satu, yaitu "Tematik".

Di dalam layanan Simpatika sendiri telah disiapkan mata pelajaran "Tematik PAI" untuk RA.

Ketentuan Tentang Penyusunan Jadwal Kelas di RA


Berikut ini contoh penyusunan Jadwal Kelas Mingguan di RA pada layanan Simpatika.

Jadwal Kelas RA


Perhatikan gambar:

  1. Contoh pada gambar di atas menggunakan durasi minimal di RA yaitu dengan Alokasi 30 JTM per-minggu. Setiap hari terdiri atas 5 JTM yang masing-masing jamnya berdurasi 30 menit.
  2. RA dapat juga menggunakan 'Alokasi JTM Maksimal', yaitu dengan alokasi 36 JTM per-minggu. Jika menggunakan alokasi maksimal ini tentunya setiap harinya akan terdiri dari 6 JTM dengan durasi masing-masing selama 30 menit.
  3. Mapel yang digunakan adalah "Tematik PAI"
  4. Guru RA adalah guru kelas. Karena itu 'beban kerja' guru kelas adalah satu kelas. Artinya hanya mengampu pada satu kelas tertentu saja.
  5. Untuk dapat memenuhi minimal 24 jam (sebagai syarat pemenuhan Beban Kerja Guru yang Bersertifikat Pendidik), seorang guru RA setidaknya harus mengajar selama :
    • 4 (empat) hari jika menggunakan Alokasi 36 JTM per minggu ( 4 hari kali 6 JTM = 24 JTM)
    • 5 (lima) hari jika menggunakan Alokasi 30 JTM perminggu ( 5 hari kali 5 JTM = 25 JTM)
  6. Kepala RA, berdasarkan KMA Nomor 103 Tahun 2015, dihitung sebagai tugas tambahan yang memiliki ekuivalensi sebesar 18 JTM. Oleh karena itu untuk memenuhinya Kepala RA setidaknya harus mengajar selama :
    • 1 (satu) hari jika menggunakan Alokasi 36 JTM per minggu (18 + 6 = 24 JTM)
    • 2 (dua) hari jika menggunakan Alokasi 30 JTM per minggu (18 + 10 = 28 JTM)
    • Kepala RA dapat mengajar di lebih dari satu kelas (rombel) maupun tingkat.
  7. Guru pendamping atau guru pengganti tidak dihitung jamnya dalam penghitungan jam mengajar di SKMT.
  8. Di RA tidak berlaku tugas tambahan guru sebagai Wakil Kepala RA dan Wali Kelas.
Berarti mapel di RA tidak menggunakan mapel seperti kognitif, motorik, sosial emosional, dan lain-lain?

Benar. Cukup gunakan "Tematik PAI" saja. Sampai saat ini belum ada struktur kurikulum standar yang memuat mata pelajaran untuk jenjang RA. Pembelajarannya berbasis tematik dengan hitungan 1 jam pelajaran = 30 menit.

Berikut penegasan Admin Simpatika Pusat saat menjawab pertanyaan seputar kurikulum dan mata pelajaran di RA.

Tanya Jawab Seputar Kurikulum RA


Ketentuan di atas hanya sebagai gambaran umum struktur kurikulum RA di Simpatika. Untuk lebih pasti dalam penyusunan Jadwal Kelas di RA dan pemenuhan Beban Kerja Guru RA, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota setempat atau dengan Pengawas RA masing-masing.

Pilihan Mapel Tematik PAI Tidak Muncul


Bisa jadi saat mengisi Jadwal Kelas Mingguan, pilihan mapel Tematik PAI tidak muncul. tetapi tidak perlu galau dan risau. Untuk memunculkannya cukup dengan menambahkan mapel tersebut di menu Daftar Mata Pelajaran. Caranya :
  1. Kepala RA atau Operator RA masuk ke Simpatika pada Layanan Sekolah
  2. Pilih menu "Sekolah"
  3. Pilih menu "Kurikulum"
  4. Pilih menu "Daftar Mata Pelajaran"
  5. Pada halaman Daftar Mata Pelajaran, klik tanda plus.
  6. Muncul kotak isian Mapel Baru.
Selengkapnya, simak video tutorial berikut ini:


Demikian gambaran tentang Struktur Kurikulum di RA yang digunakan oleh Simpatika. Kurikulum ini semoga bisa membantu guru, operator, dan Kepala RA dalam menyusun Jadwal Kelas yang benar sehingga dapat mencetak S25a dan SKMT dan SKBK yang linear.




Read more

Struktur Kurikulum MI yang Digunakan Simpatika

Akhirnya Tim Pusat Simpatika merilis Struktur Kurikulum MI yang digunakan dalam layanan Simpatika. Struktur Kurikulum ini, utamanya digunakan dalam pengisian Jadwal Kelas Mingguan di Madrasah Ibtidaiyah. Juga dalam penghitungan jam mengajar masing-masing guru Madrasah Ibtidaiyah yang berkorelasi langsung dengan pencetakan SKMT dan SKBK Online.

Bersama dengan Struktur Kurikulum MI juga dirilis struktur kurikulum untuk jenjang pendidikan lainnya mulai dari:
  1. Struktur Kurikulum untuk RA.
  2. Struktur Kurikulum untuk MTs.
  3. Struktur Kurikulum untuk MA.

Harus diakui, struktur kurikulum dengan Alokasi JTM yang diterapkan di Simpatika membuat banyak madrasah yang kebingungan. Walaupun sudah berulang kali dijelaskan dalam berbagai kesempatan jika kurikulum yang digunakan merupakan kombinasi antara KTSP dan K13. Namun nyatanya masih banyak yang 'gagal paham'.

Mungkin karena struktur kurikulum yang diberlakukan di Kemenag selama ini terlalu 'rumit'.

Karena itulah kemudian Tim Pusat Simpatika merilis Standar dan Struktur Kurikulum yang digunakan di sistem layanan Simpatika.

Struktur Kurikulum MI


Standar Struktur Kurikulum


Sesuai dengan KMA Nomor 207 Tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah, mulai Semester kedua Tahun pelajaran 2014/2015 Kemenag memberlakukan 'kurikulum kombinasi' untuk jenjang MI, MTs, dan MA. Pada mata pelajaran umum tetap kembali menggunakan standar KTSP sedangkan untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab tetap menggunakan standar K13 sesuai KMA Nomor 165 Tahun 2014.

Struktur kurikulum ini digunakan  sebagai dasar konfigurasi sistem di Layanan Simpatika mulai dari Isian Jadwal Kelas, Linieritas Mapel Sertifikasi, hingga SKMT dan SKBK Online.

Adapun struktur kurikulum bagi Madrasah Ibtidaiyah yang telah disesuaikan tersebut adalah sebagai berikut.

Sehubungan dengan Penyesuaian Alokasi JTM yang dilakukan oleh Simpatika, Struktur kurikulum kelas 1-3 dengan pendekatan mata pelajaran terpaksa harus menyesuaikan. Simak model struktur kurikulum yang dibuat Simpatika Pati di bagian akhir artikel ini.

TABEL STRUKTUR KURIKULUM MADRASAH IBTIDAIYAH

Komponen Alokasi Waktu JTM KTSP Alokasi Waktu JTM KMA 207
I II III IV, V, VI I II III IV, V, VI
A Mata Pelajaran
1 Pendidikan Agama Islam
a. Al Quran Hadits 2 2 2 2 2 2 2 2
b. Akidah Akhlak 2 2 2 2 2 2 2 2
c. Fikih 2 2 2 2 2 2 2 2
d. Sejarah Kebudayaan Islam - - 2 2 - - 2 2
2 Pendidikan Kewarganegaraan 2 2 2 2
2
3 Bahasa Indonesia 4 4 4 5 5
4 Bahasa Arab - - - 2 2 2 2 2
5 Matematika 4 4 4 5


5
6 Ilmu Pengetahuan Alam 3 3 3 4 4
7 Ilmu Pengetahuan Sosial 3 3 3 3 3
8 Seni Budaya dan Keterampilan 3 3 3 4 4
9 Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan 4 4 4 4 4
B Muatan Lokal 2 2 2 2 2
C Pengembangan Diri - - - - - - - -
Jumlah Alokasi JTM (Jumlah Asal) 31 31 33 39 31 31 33 39
Jumlah Alokasi JTM (Jumlah Terbaru)
30 30 32 39

Simak MODEL STRUKTUR KURIKULUM YANG DISESUAIKAN di bagian akhir artikel ini (UPDATE 10 MARET 2016)

Keterangan:

  1. Untuk mapel umum pada tingkat (kelas) rendah MI (I, II, dan III) dapat diampu dengan pendekatan "tematik" maupun "mata pelajaran". Untuk itu, di daftar mata pelajaran di Simpatika disediakan juga mata pelajaran Tematik (PAI).
    1. Alokasi per Mapel di kelas I, II, dan III pada tabel di atas (JTM KTSP), disesuaikan oleh Admin www.simpatikapati.com berdasarkan pendekatan "mata pelajaran". 
  2. Untuk mapel Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada tingkat (kelas) rendah (I, II, dan III) diampu dengan pendekatan "mata pelajaran"
  3. Untuk kelas atas MI (IV, V, dan VI) menggunakan pendekatan "mata pelajaran" untuk semua mapelnya.
  4. Sesuai dengan KMA Nomor 165 Tahun 2014, mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam mulai diajarkan pada kelas III dengan 2 JTM perminggu.
  5. Pengembangan Diri tidak dihitung sebagai mata pelajaran.
  6. Mata pelajaran Muatan Lokal mendapat alokasi 2 JTM perminggu. Jika terdapat mapel Muatan Lokal lainnya (lebih dari 2 JTM), dapat menggunakan prosedur tugas tambahan melalui kegiatan ko-korikuler dan ekstrakurikuler sesuai yang diatur dalam KMA Nomor 103 Tahun 2015.
  7. Total Jam Tatap Muka (JTM) perminggu dalam satu rombongan belajar diperhitungkan dengan penyesuaian sebagaimana berikut:
    1. Tingkat 1 : 30 JTM
    2. Tingkat 2 : 30 JTM
    3. Tingkat 3 : 32 JTM
    4. Tingkat 4 : 39 JTM
    5. Tingkat 5 : 39 JTM
    6. Tingkat 6 : 39 JTM
  8. Terkait penyesuaian "Alokasi JTM Terbaru" pada kelas bawah (1-3), alokasi antar mapel yang dapat dilaksanakan dengan pendekatan tematik dapat dikurangi hingga jumlah JTM sesuai.

Dokumen selengkapnya untuk kurikulum ini dapat diunduh DI SINI.

Tabel Struktur Kurikulum MI

Bukankah Dalam KTSP Bisa Menambah Hingga 4 JTM?


Dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 memang memungkinkan untuk melakukan penambahan Jam Tatap Muka hingga maksimal 4 JTM perminggunya. Namun ketentuan itu tidak tertulis dalam Permenag Nomor 2 Tahun 2008 yang mendasari penyelenggaraan KTSP di madrasah.

Di samping itu, secara prinsip, Kemenag telah mengakomodir penambahan jam tersebut melalui mapel PAI dan Bahasa Arab yang jika ditotal jumlahnya sudah bertambah 4 JTM bahkan melebihinya.

So, tidak ada lagi penambahan 4 JTM.

Bagaimana dengan Madrasah yang Menggunakan K13



Madrasah yang dapat menyelenggarakan Kurikulum 2013 adalah madrasah yang terdaftar dalam SK Dirjen Nomor 481 Tahun 2015 dan Nomor 5114 Tahun 2015. Madrasah-madrasah tersebut menggunakan struktur kurikulum sesuai dengan KMA Nomor 165 Tahun 2014.

Sekarang, Operator Madrasah dan Kepala Madrasah tidak perlu galau lagi terkait dengan pengisian Jadwal Kelas dan Cetak SKMT dan SKBK Online karena telah disediakan Struktur Kurikulum MI yang digunakan di Simpatika.

UPDATE 10 MARET 2016


Idealnya pembelajaran pada kelas rendah (I-III) di MI menggunakan pendekatan tematik khusus untuk mata pelajaran PKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, SBK, PJOK, dan Mulok. Sedangkan mapel PAI (Al Quran Hadits, Akidah Akhlak, Fikih, SKI) dan Bahasa Arab menggunakan pendekatan mata pelajaran.

Jika menggunakan pendekatan tematik, maka total JTM pelajaran umum (PKn, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, SBK, PJOK, dan Mulok) adalah 22 JTM. Lihat gambar tabel di bagian bawah.

yang menjadi masalah adalah ketika pembelajaran di kelas 1-3 diselenggarakan dengan pendekatan mata pelajaran, bukan tematik. Berapa alokasi jam untuk setiap mapelnya?

Mungkin tabel struktur kurikulum di bawah ini bisa dijadikan acuan.

Struktur Kurikulum MI yang Disesuaikan

Perhatikan gambar di atas:

  1. Alokasi jam per mapel yang diblok hijau muda merupakan implemantasi dari KMA Nomor 165 Tahun 2014. Alokasi tersebut tidak dapat 'diganggu gugat'.
  2. Alokasi jam per mapel yang diblok kuning dan putih merupakan implementasi dari diberlakukannya kembali KTSP.
  3. Pada kelas bawah (tingkat 1-3) sebagaimana yang diblok kuning, pembelajarannya idealnya dilaksanakan dengan pendekatan tematik dengan total 22 JTM perminggunya. Sehingga ketika mengisi Jadwal kelas di Simpatika dapat memilih mata pelajaran "Tematik PAI" untuk delapan mapel tersebut.
  4. Jika menggunakan pendekatan mapel, alokasi permapel dapat disesuaikan dengan catatan jumlah keseluruhan (delapan mapel tersebut) harus tetap 22 JTM.
  5. Khusus untuk kedelapan mapel tersebut (yang diblok kuning) Simpatika tidak memberikan 'batasan alokasi JTM' per mapel.
  6. Contoh pembagian alokasi jam permapel pada delapan mapel di kelas 1-3 sebagaimana gambar di atas hanyalah sekedar contoh/acuan. Untuk pelaksanaannya silakan melakukan koordinasi dengan Kantor Kementerian Agama Kab/Kota setempat atau Pengawas Madrasah masing-masing.



Referensi artikel: www.facebook.com/notes/simpatika/standar-implementasi-kurikulum-madrasah-di-simpatika-versi-10/1021477341245387
Read more

Tuesday, March 8, 2016

Bagaimana Cara Pengajuan NUPTK Baru di Simpatika

Bagaimana cara mengajukan NUPTK baru di Simpatika?, demikian salah satu pertanyaan yang kerap terlontar, terutama oleh PTk yang masih menyandang status PegID.

Kapan PegID dapat melakukan pengajuan NUPTK baru? Kenapa menu NUPTK Baru atau S06 tidak ada lagi di Simpatika dan kapan dimunculkan kembali?

Apa syarat untuk mengajukan NUPTK baru dan bagaimana prosedurnya?

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan senada, baik yang ditanyakan kepada Admin www.simpatikapati.com maupun di berbagai forum terkait Simpatika.

Terakhir kali Simpatika (saat itu masih bernama Padamu Negeri) melayani pengajuan NUPTK baru adalah pada pertengahan 2015. Setelahnya, hingga sekarang belum pernah dibuka lagi pengajuan NUPTK baru.

Padahal dengan memiliki NUPTK, kemungkinan seorang PTK untuk dapat mengikuti berbagai program pengembangan dan peningkatan mutu dan kesejahteraan PTK semakin besar. Pencairan aneka tunjangan kesejahteraan guru biasanya mensyaratkan kepemilikan NUPTK.

Pengajuan NUPTK Baru


Kapan Dibuka Pengajuan NUPTK Baru?


Nah ini yang menjadi pertanyaan utama para pendidik yang masih PegID.

Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cukup mengejutkan: Terkait pengajuan NUPTK baru, Simpatika menunggu kebijakan Kementerian Agama, terutama Dirjen Pendis. Sedang Dirjen Pendis sendiri tidak ada rencana untuk melayani pengajuan NUPTK baru bagi PTK ber-PegID dalam waktu dekat ini.

Singkatnya, jangan berharap status PegID berubah menjadi NUPTK dalam waktu dekat, setidaknya sampai akhir tahun 2016.

Lho, kok.

Simpatika (dulu Padamu Negeri) tidak dipergunakan lagi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Padahal yang berwenang untuk menerbitkan NUPTK adalah Kemendikbud. Sehingga proses pengajuan NUPTK baru akan melalui proses yang melibatkan dua kementerian, tentunya dengan birokrasi yang tidak mudah.

Apalagi kini pengajuan NUPTK di Kemendikbud pun melalui proses dan tahapan yang baru, yang berbeda dengan zamannya Padamu Negeri.


Pengajuan S06 NUPTK Baru
Proses Pengajuan S06 (PegID menjadi NUPTK) sewaktu Padamu Negeri

NPK Sebagai NUPTK-nya Kemenag


Mengantisipasi kondisi tersebut, Dirjen Pendidikan Islam telah membuat sebuah terobosan baru. Jika proses pengajuan NUPTK melalui Kemendikbud harus melewati birokrasi yang tidak mudah, kenapa tidak membuat 'nomor unik' tersendiri?

Ya, akhirnya muncullah NPK atau Nomor Pendidik Kemenag.

NPK adalah nomor atau kode khusus yang diberikan kepada guru di lingkungan Kementerian Agama. NPK sekaligus menjadi kode identitas bagi guru yang ber-satminkal di lingkungan Kemenag.

NPK merupakan pengganti NUPTK kghusus bagi PTk di naungan Kementerian Agama.

Karena sebagai solusi dan pengganti NUPTK maka, NPK memiliki fungsi dan kegunaan yang sama persis dengan NUPTK. Namun penggunaannya terbatas di lingkungan Kementerian Agama saja.

Ke depan, program-program peningkatan mutu pendidik seperti PPG (Pendidikan Profesi Guru), hingga peningkatan kesejahteraan guru layaknya pemberian Tunjangan Fungsional dan Tunjangan Profesi Guru (TPG) persyaratan pemenuhannya tidak lagi menggunakan NUPTK melainkan cukup memakai NPK.

Nomor Pendidik Kemenag (NPK) sendiri diberikan secara otomatis kepada pendidik di Kemenag yang berstatus PNS ataupun guru swasta yang sebelumnya telah memiliki NUPTK.

Bagi guru di luar kedua golongan tersebut, atau guru yang baru berstatus PegID, penerbitan NPK pun akan otomatis dilakukan melalui layanan Simpatika ketika guru-guru tersebut telah memenuhi persyaratan. Adapun syaratnya adalah:

  1. Telah berkualifikasi pendidikan minimal D4/S1
  2. Telah menjadi pendidikan dengan satminkal lembaga pendidikan di bawah naungan Kemenag sedikitnya selama 2 tahun.
  3. Aktif mengajar sedikit-dikitnya 4 semester berurutan.
Khusus untuk point ketiga dalam syarat tersebut, dihitung dari Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016 ini ke belakang. Sehingga riwayat mengajar semester ini harus sudah tercatat permanen di layanan Simpatika yang ditandai dengan ajuan S25a oleh Kepala Madrasah telah disetujui oleh Admin Kab/Kota. Baca : Kenapa NPK Saya Hilang?

Jangan Galau Tidak Ber-NUPTK


Bagi guru Madrasah dan RA, tidak usah galau jika tidak memiliki NUPTK. Karena Kemenag telah menghadirkan NPK yang memiliki fungsi dan kegunaan yang sama persis dengan NUPTK. Bahkan dengan proses dan tahapan yang 'sangat-teramat-amat' mudah (otomatis muncul dan tanpa melalui proses pengajuan) dibandingkan dengan NUPTK.

Dus, tidak usah lah memikirkan PegID yang tidak berubah-ubah menjadi NUPTK meskipun telah bertahu-tahun.

Kalau masih galau juga lantaran tidak memiliki NUPTK? Untuk apa? Atau bisa jadi pendidik tersebut memiliki rencana untuk hengkang dari Kemenag dan berpindah ke Kemendikbud.
Read more

Thursday, March 3, 2016

Kenapa Ajuan SKMT & SKBK Tidak Linear?

Saat melakukan Cetak SKMT dan Ajuan SKBK kenapa pada status linearitas muncul tidak linear? Apa penyebab ketidak-linear-an itu? dan Apa yang harus dilakukan agar status linearitas menjadi linear?

Padahal jika dianggap SKMT dan SKBK tidak linear, Tunjangan Profesi Guru terancam tidak bisa dicairkan.

Linearitas terkait dengan Penghitungan Beban Kerja Guru RA/Madrasah. Kementerian Agama melalui Dirjen Pendidikan Islam telah mengeluarkan aturan tentang ini berupa Keputusan Dirjen Pendis Nomor DJ.I/DT.I.I/166/2012 tentang Pedoman Teknis Penghitungan Beban Kerja Guru Raudlatul Athfal/Madrasah.

Untuk mempelajari hal ini lebih lanjut silakan baca Keputusan Dirjen Pendis Nomor DJ.I/DT.I.I/166/2012.

Untuk mengakomodir Penghitungan Beban Kerja Guru RA/Madrasah, Layanan Simpatika menyediakan fitur Cetak SKMT dan Ajuan SKBK atau S29. Fitur ini baru bisa dikerjakan setelah Ajuan Keaktifan Kolektif Kepala Madrasah (S25a) disetujui oleh Admin Simpatika di tingkat Kabupaten/Kota dengan diterbitkannya S25b.

Guru Linear


Kenapa Ajuan SKMT & SKBK Tidak Linear?


Saat beberapa PTK mencoba fitur S29 (SKBK & SKMT) di layanan Simpatika, banyak yang mengalami munculnya status tidak linear.

Inilah yang kemudian menyebabkan operator madrasah, Kepala Madrasah, hingga pendidik menjadi ketar-ketir. Karena linearitas terkait erat dengan kelayakan sebagai penerima tunjangan.

Dari pengamatan penulis, linearitas tersebut dipengaruhi oleh tiga hal hal yaitu kesesuaian Mata Pelajaran yang diajarkan dengan Mata Pelajaran yang tertera di NRG, Status Verval NRG,  dan Nama Mata Pelajaran yang diisikan dalam Jadwal Mengajar Mingguan.

SKBK dan SKMT yang Linear


Untuk memperbaikinya, batalkan dulu Ajuan SKMT dan SKBK. Prosedur dan tata caranya lihat di artikel berikut:

1. Nama Mata Pelajaran Tidak Sesuai Kurikulum Nasional


Perhatikan gambar berikut ini.



Sama-sama Bahasa Inggris tetapi pada mapel yang berkotak merah Kurikulum Nasional bertanda strip (-), sedangkan yang lainnya pada Kurikulum Nasional bertuliskan sesuai nama mapel. Meskipun nama pelajaran sama dan identik, hal ini oleh sistem dianggap sebagai mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kurikulum.

Solusi:


  1. Cek mata pelajaran yang tertulis di menu Sekolah >> Kurikulum >> Daftar Mata Pelajaran
  2. Hapus mata pelajaran yang pada "kurikulum nasional" berisi tanda strip dengan cara klik tanda segitiga di ujung kanan lalu pilih Hapus Pelajaran.
  3. Cek kembali isian Jadwal Kelas Mingguan. Ganti nama 'mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kurikulum nasional' dengan 'mata pelajaran yang sesuai kurikulum'

2. Sesuaikan Mapel yang Diampu dengan Mapel NRG / Sertifikasi Guru


Sesuaikan mata pelajaran yang diajarkan (diampu) oleh guru telah sesuai dengan sertifikat pendidik dan mata pelajaran dalam NRG guru yang bersangkutan.

Jika seorang guru memiliki sertifikat pendidik sebagai guru Bahasa Indonesia, silakan beri mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam Jadwal Kelas Mingguan. Guru dengan sertifikat pendidik Pendidikan Agama Islam mengajar mata pelajaran Al Quran Hadits, Akidah Akhlak, Fikih, atau Sejarah Kebudayaan Islam. 

Pahami peraturan-peraturan terkait dengan kesesuaian mata pelajaran dengan Sertifikat Pendidik. Salah satunya adalah KMA Nomor 103 Tahun 2015.

Bagaimana bagi pendidik yang belum bersertifikat pendidik?

Ya, terima saja dengan lapang dada status 'tidak linear' yang diberikan.

3. Status Verval NRG

Status linear atau tidak linear juga terkait dengan status Verval NRG yang telah dilakukan.

Pendidik yang telah melakukan verval NRG dan pengajuannya disetujui dengan ditandai munculnya NRG di dasbor PTK yang bisa linear. Sebaliknya, jika ajuan Verval NRG yang dilakukan masih dalam proses maka tidak akan linear.

NRG yang telah disetujui


Pun bagi pendidik yang belum memiliki NRG, meskipun telah memiliki sertifikat pendidik dan mengampu mata pelajaran sesuai dengan sertifikat pendidik yang dipunyainya tetap tidak bisa linear dalam ajuan SKBK dan SKMT.

Berarti harus memenuhi ketiga syarat di atas?

Benar. Agar SKMT dan SKBK yang diajukan linear harus memenuhi ketiga syarat tersebut, yaitu:

  1. Nama mapel dalam Jadwal Kelas Mingguan telah sesuai dengan kurikulum nasional.
  2. Mapel yang diampu telah sesuai dengan sertifikat pendidik dan mapel dalam NRG.
  3. Status Verval NRG telah disetujui.
Jika belum dan ingin memperbarui, silakan ikuti prosedur dan cara membatalkan SKMT dan SKBK.

Guru yang belum bersertifikat pendidik, belum memiliki NRG, atau status verval NRG-nya masing dalam proses berarti akan tidak linear, dong? 

Iya!

Kerena guru yang belum bersertifikat pendidik tentunya tidak layak mendapatkan TPG. Guru bersertifikat pendidik tetapi mengampu mata pelajaran yang tidak sesuai dengan sertifikat pendidiknya pun tidak layak mendapatkan TPG, meskipun ketidaksesuaian mata pelajaran tersebut dikarenakan kesalahan dalam memilih nama mata pelajaran (baca : poin 1 di atas).

Kejam, ya?

Untuk guru yang belum bersertifikat pendidik atau sudah tetapi mengajar mata pelajaran yang tidak sesuai dengan sertifikatnya memang 'tiada maaf bagimu'.

Namun kita berharap dan berdoa saja semoga aja kebijakan khusus, terutama bagi rekan-rekan guru yang tengah menjalani proses Verval NRG agar status linearitas dalam SKMT dan SKBK tetap dianggap linear. Yang namanya berharap dan berdoa kan boleh-boleh saja.
Read more

Prosedur dan Cara Membatalkan SKMT dan SKBK

"Bagaimana cara membatalkan Ajuan SKMT dan SKBK?", celetuk Saya. Teman saya yang Operator Madrasah langsung menyahut, "Lha wong cetak SKMT aja belum kok sudah berfikir bagaimana caranya membatalkan SKMT".

Saya hanya tersenyum.

Fitur baru di Layanan Simpatika, SKMT & SKBK, memang menjadi fitur fenomenal. Pertama karena fitur ini akan menentukan kelayakan seorang pendidik untuk mendapatkan Tunjangan Profesi Guru (TPG). Wajar jika kemudian para guru antusias dalam menyambut kehadirannya.

Yang membuatnya tambah fenomenal adalah sederet permasalahan yang menyertai kemunculan fitur ini. Saat Ajuan Keaktifan Kolektif (S25a) masih terkendala dengan alokasi Jam Simpatika (JTM) yang digunakan secara resmi oleh Kemenag dan permasalahan seputar Verval NRG yang belum terselesaikan, me-launching fitur SKBK (Surat Keterangan Beban Kerja)  & SKMT (Surat Keterangan Melaksanakan Tugas) memang berisiko menimbulkan fenoma.

Ditambah dengan panduan tentang SKMT & SKBK, di situs resmi Bantuan Simpatika, belum lengkap. Baru sekedar alur dan tata cara mencetak SKMT oleh PTK. Sedangkan tata cara dan prosedur pada tahap selanjutnya masih belum tersedia.

Boleh dibilang, fitur SKMT & SKBK (S29) hadir terlalu cepat.

Akhirnya tidak sedikit PTK yang kemudian menjadi gamang dan bingung setelah melakukan Cetak SKMT. Ketika didapatinya status yang 'tidak linear' atau Jumlah Jam Mengajar di Tempat Tugas (JJM TM) yang tidak memenuhi syarat.

Membatalkan SKMT


Pertanyaannya kemudian seperti yang saya tanyakan, adakah cara untuk membatalkan SKMT?

Kalau ada, bagaimana cara membatalkan SKBK dan SKMT?

Padahal dicari-cari, tombol Batal Ajuan atau Batal Cetak tidak ketemu.

Cara Membatalkan SKMT dan SKBK


Untuk membatalkan Ajuan SKMT dan SKBK sekaligus memperbaiki data-data mengajar terkait SKMT dan SKBK dapat dilakukan berdasarkan status ajuan S29 tersebut.

Simpatikapati merangkum cara pembatalan ajuan S29 tersebut dalam tiga jenis tindakan sebagai berikut.

1. Batalkan Ajuan S25a oleh Kepala Madrasah


Jika tampilan pada dasbor PTK (menu SKMT & SKBK) seperti gambar di bawah ini, perhatikan tombol Cetak Surat yang masih belum aktif (tulisan berwarna kelabu dan tidak bisa diklik) dan kotak nama madrasah berwarna merah.

Cara Membatalkan SKMT SKBK


Pembatalan SKMT relatif cukup mudah. Kepala Sekolah cukup membatalkan Ajuan S25a di akun PTK Kepala Madrasah. Klik tombol Batal Ajuan seperti gambar di bawah ini.

Cara Membatalkan SKMT SKBK


2. Batalkan S25b oleh Admin Kabupaten/Kota


Jika tampilan pada dasbor PTK (menu SKMT & SKBK) seperti gambar di bawah ini, perhatikan tombol  Cetak Surat yang sudah aktif (tulisan berwarna biru dan bisa diklik) dan kotak nama madrasah berwarna hijau.

Cara Membatalkan SKMT SKBK


Status ini mengindikasikan bahwa S25a telah diajukan dan telah disetujui oleh Admin Simpatika Mapenda (kabupaten/Kota).

Atau seperti gambar berikut ini:

Cara Membatalkan SKMT SKBK


Gambar ini mengindikasikan PTK telah mengklik Ajuan S29a/S29b/S29c namun belum dinilai dan disetujui oleh Kepala Madrasah.

Untuk dapat membatalkan SKMT dan melakukan edit atau perbaikan pada jadwal mengajar, yang harus dilakukan adalah:

  1. Kepala Madrasah mengajukan pembatalan S25 ke Admin Kabupaten/Kota
  2. Setelah S25 dibatalkan, Kepala Madrasah login ke layanan Simpatika (akun Kepala Madrasah) dan membatalkan Ajuan S25a sebagaimana tindakan 1 di atas.


3. Batalkan Ajuan SKBK dan S25b oleh Admin Kabupaten


Jika tampilan pada dasbor PTK seperti di bawah ini:

Cara Membatalkan SKMT SKBK


Gambar ini berarti Ajuan SKBK PTK telah dinilai dan disetujui oleh Kepala Madrasah.

Untuk membatalkan Ajuan SKMT pada kasus seperti ini diperlukan beberapa langkah, yaitu:

  1. Kepala Madrasah mengajukan pembatalan Ajuan SKBK ke Admin Kabupaten/Kota
  2. Setelah Ajuan SKBK dibatalkan, Kepala Madrasah mengajukan pembatalan S25 ke Admin Kabupaten/Kota
  3. Setelah S25 dibatalkan, Kepala Madrasah login ke layanan Simpatika (akun Kepala Madrasah) dan membatalkan Ajuan S25a sebagaimana tindakan 1 di atas.


Walaupun tampaknya belum ada, kalau Ajuan SKBK sudah disetujui oleh Admin Kabupaten/Kota. Bagaimana cara membatalkannya?. untuk kasus terakhir silakan langsung berhubungan dengan Admin Kabupaten/Kota.

Setelah itu, silakan lakukan perubahan dan perbaikan yang diperlukan.

Demikian prosedur dan cara membatalkan ajuan SKBK dan SKMT.
Read more

Wednesday, March 2, 2016

Cetak SKMT dan SKBK, Syarat, Prosedur, dan Cara

SKMT dan SKBK Online merupakan salah satu fitur baru di layanan Simpatika periode Semester Genap Tahun Pelajaran 2015/2016. Meski fitur baru, SKMT dan SKBK menjadi salah satu fitur yang paling dinanti kehadirannya.

SKMT adalah Surat Keterangan Melaksanakan Tugas sedangkan SKBK adalah Surat Keterangan Beban Kerja. Keduanya menjadi sebuah fitur andalan di Simpatika yang akan mengalkulasi beban kerja seorang guru secara online, realtime, dan otomatis dengan berbasis data jadwal mengajar guru yang diisikan di Simpatika. Hasil penilaian di SKBK diharapkan lebih akurat, cepat, mudah, dan akuntabel dalam penentuan kelayakan Tunjangan Profesi yang diterima seorang guru.

Syarat Mengajukan SKMT dan SKBK


SKMT dan SKBK Online


Untuk dapat mencetak SKMT dan SKBK seorang guru harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Guru yang mengajar di RA/ Madrasah di naungan Kementerian Agama
  2. Memiliki AKun Simpatika dan telah aktif semester ini. Baca : Cara Cetak Kartu Simpatika
  3. Madrasah telah mengajukan S25a (Ajuan Keaktifan Kolektif) yang disetujui oleh Admin Mapenda Kabupaten/Kota (telah menerima S25b).

Jika S25a disetujui oleh Admin Simpatika di tingkat Kabupaten/Kota, maka PTK (guru) belum dapat melakukan Cetak SKMT.

Pastikan isian jadwal mengajar dan lain sebagaimanya telah benar sebelum mencetak S25a. Karena S25a menjadi basis dasar penentuan SKMT dan SKBK. Untuk itu jangan lupakan untuk memperhatikan: Jangan Cetak S25a Sebelum 10 Hal Ini Beres.

Prosedur Cetak SKMT dan Ajuan SKBK


SKMT dicetak secara mandiri oleh setiap guru di akun PTK masing-masing. SKMT ini diajukan ke Kepala Madrasah dan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan. Hasilnya dikirimkan ke Admin Simpatika Kabupaten/Kota untuk mendapatkan SKBK (Surat Keterangan Beban Kerja).

Secara garis besar alur dan prosedurnya adalah sebagai berikut:
  1. Pastikan Kepala Madrasah telah mengajukan S25a dan disetujui oleh Admin Simpatika Kabupaten/Kota yang ditandai dengan terbitnya S25b
  2. PTK mencetak SKMT (Surat Keterangan Melaksanakan Tugas) di akun PTK masing-masing. SKMT ini terdiri atas tiga jenis, yaitu:
    1. S29a : SKMT bagi guru yang mengajar Satminkal Induk di naungan Kemenag
    2. S29b : SKMT bagi guru yang mengajar Satminkal non-induk di naungan Kemenag
    3. S29c : SKMT bagi guru yang mengajar Satminkal non-induk di naungan Kemendikbud
  3. PTK menyerahkan cetak SKMT (S29a/S29b/S29c) ke Kepala Madrasah
  4. Kepala Madrasah melakukan pengesahan dan penilaian SKMT guru tersebut melalui akun PTK Kepala Madrasah.
  5. Kepala Madrasah mencetak Lampiran SKMT (S29d)
  6. Kepala Madrasah menandatangani SKMT dan lampiran SKMT
  7. SKMT dan Lampiran SKMT dimintakan tanda tangan Pengawas
  8. SKMT dan Lampiran SKMT diajukan ke Admin Simpatika Kabupaten/Kota
  9. Admin Kabupaten/Kota menerbitkan SKBK atau Surat Keterangan Beban Kerja (S29e)
  10. PTK menerima SKBK (S29e)

Cara dan Langkah-langkah Cetak SKMT dan Ajuan SKBK


Peringatan: Fitur SKMT dan SKBK diluncurkan pada 1 Maret 2016 malam. Saat Penulis mencoba menggunakannya beberapa kali, terdapat beberapa bug dan kejanggalan. Karena itu, penulis tidak menyarankan untuk mencetak SKMT dan SKBK pada satu dua hari ini.

Cara dan langkah untuk mencetak SKMT bisa disimak dalam video tutorial sebagai mana berikut ini:



Keterangan:

  1. Pada dasbor SKBK & SKMT akan muncul kotak bertuliskan nama RA/Madrasah. Jika kotak tersebut berwarna merah berarti proses cetak SKMT tidak dapat dilanjutkan kerena S25a belum diajukan dan disetujui oleh Admin Kabupaten/Kota. Sebaliknya jika telah disetujui maka kotak akan berwarna hijau.
  2. Bagi guru yang mengajar di lebih dari satu sekolah, maka akan terdapat kotak bertuliskan nama sekolah/madrasah sejumlah madrasah/sekolah tempat mengajar.
  3. Bagi guru sebagaimana tersebut di nomor dua, maka yang bersangkutan akan mencetak formulir S29 sejumlah madrasah/sekolah tempat mengajar.
  4. Setelah SKMT tercetak, PTK dapat memantau kemajuan proses Persetujuan SKMT dan Ajuan SKBK di akun PTK masing-masing.

Demikianlah syarat, prosedur, dan cara mencetak SKMT dan Ajuan SKBK bagi guru RA/Madrasah di bawah naungan Kementerian Agama. Jangan terburu-buru untuk mencetak SKMT dan melakukan Ajuan SKBK mengingat masa verval Simpatika yang masih panjang (sampai 30 Juni 2016). Pastikan dulu data dan riwayat mengajar (termasuk tugas tambahan guru) di semester ini telah benar baru lakukan cetak SKMT dan SKBK.
Read more

Tuesday, March 1, 2016

Validasi Alokasi Jam Mengajar Madrasah di Simpatika

Validasi Alokasi Jam Mengajar Madrasah merupakan salah satu fitur validasi terbaru yang diterapkan oleh layanan Simpatika. Validasi ini akan otomatis memberikan peringatan ketika pengisian jadwal mengajar tidak sesuai dengan kurikulum yang digunakan oleh Kementerian Agama.

Peringatan Validasi Alokasi Jam Mengajar akan muncul di dua tempat. Pertama di Akun PTK Kepala Madrasah, pada menu Keaktifan Diri. Jika dalam pengisian jadwal mengajar terdapat jumlah jam yang melebihi ketentuan kurukulum maka akan muncul kotak merah di atas tombol Ajuan Verval. terdapat tulisan Alokasi JTM dengan keterangan tambahan, "Cek kembali untuk memastikan data Anda benar."

Validasi Alokasi Jam Mengajar Madrasah


Saat diklik akan muncul daftar kelas yang memiliki jam melebihi batas maksimal JTM serta mata pelajaran yang jam mengajarnya diisi melebihi ketentuan dalam kurikulum yang digunakan.

Sedangkan tombol Ajuan Verval (untuk mencetak S25a) saat diklik akan memunculkan peringatan, "Silakan memastikan Jadwal Pelajaran di Sekolah Anda tidak melebihi Alokasi".

Yang kedua, validasi alokasi jam mengajar ini muncul di menu Pengisian Jadwal Kelas Mingguan pada layanan Simpatika Sekolah. Setiap kali mengisikan jam pelajaran yang melebihi ketentuan, maka akan muncul peringatan, "Jumlah mapel "xxxxxx" di kelas melebihi alokasi. Alokasi mapel per minggu adalah xxxx JJM."

Validasi Alokasi Jam Mengajar Madrasah


Merepotkan tapi Penting


Adanya notifikasi tentang Validasi Alokasi Jam Mengajar ini sering kali merepotkan Operator Madrasah dan Kepala Madrasah saat mengisi Jadwal Mengajar di Simpatika. Tentunya juga menghambat proses pencetakan S25a dan Ajuan keaktifan Kolektif Kepala Sekolah.

Baca : Jangan Cetak S25a Sebelum 10 Hal Ini Beres

Meski merepotkan sebenarnya fitur ini sangat perlu dan penting.

Ini mengingat bahwa isian S25a menjadi basis data penerbitan SKBK (Surat Keterangan Beban Kerja) dan Pengesahan SKMT (Surat Keterangan Melaksanakan Tugas) bagi semua guru di madrasah tersebut. Jika pengisiannya salah, maka akan berdampak pada SKBK guru.

Seumpama, suatu pelajaran (katakanlah Matematika) diisikan oleh Kepala Madrasah sebanyak 6 jam perminggu padahal menurut kurikulum jam matematika hanya 5 jam perminggu, maka saat cetak SKMT dan ajuan SKBK akan ada jam-jam yang tidak diakui. Jam keseluruhan guru tersebut akan dikurangi dengan jam-jam yang tidak diakui. Jika jumlahnya sampai mengakibatkan total JTM Sang Guru di bawah 24 jam maka akan mengakibatkan tidak berhaknya sang Guru menerima tunjangan.

Solusi Mengatasi Validasi Alokasi Jam Mengajar


Untuk mengatasi agar Validasi Alokasi Jam Mengajar tidak muncul yang paling utama harus dilakukan adalah melakukan pengisian Jadwal Mengajar Mingguan sesuai kurikulum yang ditetapkan Kemenag.

Pertama

Referensi alokasi Jam Pelajaran setiap Mapel pada KTSP mengikuti Permenag Nomor 2 Tahun 2008, khusus Mapel Pendidikan Agama dan Bahasa Arab jumlah alokasi Jam Pelajarannyanya mengikuti K13 sesuai KMA Nomor 165 Tahun 2015.

Jadi persiapkan kedua peraturan di atas (Permenag Nomor 2 Tahun 2008 dan KMA Nomor 165 Tahun 2015) dan gunakan sebagai acuan untuk pengisian Jadwal Kelas Mingguan.

Kedua

Ikuti apa yang tertera pada peringatan Validasi Alokasi Jam Mengajar. Jika disebutkan "Jumlah mapel Pendidikan Kewarganegaraan di kelas melebihi alokasi. Alokasi mapel per minggu adalah 2 JJM", maka rubahlah hanya menjadi dua jam.

Semikian juga jika pada menu Keaktifan Diri disebutkan jika jumlah jam mengajar pada kelas tertentu melebihi alokasi, silakan kembali cek dan edit Jadwal Kelas Mingguan.

Ketiga

Ada baiknya untuk menunda sejenak pengisian Jadwal Kelas Mingguan dan Ajuan Verval S25a.

Kenapa?

Tim Teknis Simpatika Pusat sampai saat ini masih melakukan proses pemutakhiran sistem Validasi Alokasi Jam Mengajar. Hal ini terkait berbagai hal seperti untuk mengakomodir penambahan maksimal 4 JTM seperti yang diperbolehkan pada pelaksanaan kurikulum kombinasi (KTSP dan K13) tanpa harus melebihi alokasi (muncul peringatan Validasi Alokasi Jam).

Pun terdapat semacam bug yang membuat Validasi Alokasi Jam perkelas menampilkan jumlah jam yang melebihi dari yang diisikan. Semisal satu kelas total jam yang diisikan oleh Admin Madrasah hanya 33 jam tetapi oleh Validasi ditulis sejumlah 40 jam.

Bug (kesalahan) ini memang bisa ditangani dengan langkah-langkah tertentu oleh Admin Madrasah. Namun semoga aja bug itu bisa diperbaiki oleh Tim Teknis Simpatika. Sehingga tidak menambah berat kerja Operator Madrasah.

Mengenai bug pada Validasi Alokasi Jam Mengajar yang membaca jam isian melebihi dari yang diisikan pada Jadwal Kelas Mingguan ini, jika masih terus berlangsung hingga beberapa hari ke depan, Insa Allah www.simpatikapati.com akan memberikan tutorial penanganannya.

UPDATE 1 MARET 2016


Bug pada Validasi Alokasi JTM yang membaca jumlah jam melebihi dari jumlah jam sebagaimana tertera dalam Jadwal Kelas Mingguan sudah dapat diatasi oleh Tim Teknis Simpatika. Untuk memastikannya, silakan lakukan pengecekan di akun Kepala Madrasah masing-masing.

UPDATE 3 MARET 2016


Alokasi JTM yang digunakan oleh Simpatika adalah sebagai berikut:

  1. RA : 36 JTM (Kelas A dan B)
  2. MI : 31 JTM (Kelas I dan II), 33 JTM (Kelas III), dan 39 JTM (Kelas IV. V. VI)
  3. MTs : 40 JTM (Kelas VII, VIII, dan IX)
  4. MA : 44 JTM (Kelas X), 43 JTM (Kelas XI dan XII)

UPDATE 10 MARET 2016


Seusai dirilisnya dokumen Standar Implementasi Kurikulum Madrasah di Simpatika, Alokasi JTM di Simpatika mengalami penyesuaian sebagai berikut:
  1. RA : 36 JTM (Tingkat A dan B)
  2. MI : 30 JTM (Tingkat I dan II), 32 JTM (Tingkat III), dan 39 JTM (Tingkat IV. V. VI)
  3. MTs : 41 JTM (Tingkat VII, VIII, dan IX)
  4. MA : 48 JTM (Tingkat X), 47 JTM (Tingkat XI dan XII Program IPA, IPS, dan Bahasa), 50 (Tingkat XI dan XII Program Keagamaan)
Tabel Alokasi JTM di Simpatika
Tabel Alokasi JTM di Simpatika


Read more