Wednesday, September 28, 2016

Dispensasi Kelayakan Tunjangan di SKBK

Dispensasi Kelayakan Tunjangan di SKBK menjadi sedikit kabar segar bagi guru-guru yang oleh Sistem Simpatika dinyatakan 'belum layak mendapat tunjangan'. Dengan Dispensasi Kelayakan Tunjangan ini, PTK yang sebelumnya dinyatakan 'belum layak mendapat tunjangan' berubah menjadi 'layak mendapat tunjangan'. Meskipun untuk dispensasi tersebut, tentunya, hanya berlaku pada kondisi-kondisi tertentu.

Pun melalui tahapan, prosedur, dan persyaratan yang telah ditentukan.

Fitur Dispensasi Kelayakan Tunjangan terdapat di akun Operator Simpatika tingkat Kabupaten/Kota. Sehingga yang bisa memberikan dispensasi (merubah dari 'belum layak' menjadi 'layak') adalah Penmad atau admin Simpatika tingkat Kabupaten/Kota.

Dispensasi Kelayakan Tunjangan


1. Yang Berhak Mengajukan Dispensasi Kelayakan Tunjangan


Seperti disampaikan di awal artikel, tidak semua PTK yang dalam 'Analisa Tunjangan'-nya berstatus 'belum layak mendapat tunjangan' dapat mengajukan dan mendapatkan dispensasi kelayakan tunjangan ini. Karena fitur ini hanya berlaku untuk kondisi-kondisi tertentu.

Menurut Surat Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3570/05.I/Set.I/PP.00.11/09/2016 tentang Penjelasan tentang Cetak SKBK dan SKMT melalui Simpatika (tertanggal 13 September 2016), yang berhak mengajukan dispensasi kelayakan tunjangan adalah guru yang telah terdaftar aktif mengajar di Simpatika dan telah memenuhi ketentuan penyaluran tunjangan profesi guru namun oleh sistem dinyatakan 'Tidak Layak' mendapatkan tunjangan karena hal-hal sebagai berikut:

  1. Bertugas di satuan pendidikan daerah tertinggal (3T) (Perpres No. 131 Tahun 2015)
  2. Bertugas di satuan pendidikan luar biasa/inklusi
  3. Memiliki keahlian khusus dan langka
  4. Bertugas di madrasah/sekolah Indonesia di Luar Negeri
  5. Ditugaskan menjadi guru di negara lain atas dasar kerjasama antar negara
  6. Dibebaskan dari batasan standar pemenuhan rasio guru dan siswa berdasarkan PP Nomor 74 Tahun 2008
  7. Belum menyelesaikan VerVal NRG namun sudah memiliki SK Dirjen tentang Penetapan NRG sebelumnya.
Kemudian ditambah dalam Surat Dirjen Pendis Nomor 1134.A/Dj.I/Dt.I.I/2/HM.01/09/2016 tertanggal 13 September 2016 tentang Cetak SKBK dan SKMT Digital bagi Madrasah Penyelenggara SKS. Bagi guru yang mengajar di madrasah penyelenggara Sistem Kredit Semester (SKS) sebagaimana SK Dirjen Pendis Nomor 3274 Tahun 2015 berhak untuk mengajukan dispensasi kelayakan tunjangan.


2. Prosedur dan Cara Mengajukan Dispensasi Kelayakan Tunjangan


Bagi PTK yang memenuhi persyaratan sebagaimana di atas dan dalam 'Analisa Tunjangan' di Simpatika dinyatakan 'Tidak Layak Mendapatkan Tunjangan' dapat melakukan ajuan Dispensasi Kelayakan Tunjangan.

Bagaimana cara mengajukan dispensasi kelayakan tunjangan?

Fitur dan akses Dispensasi Kelayakan Tunjangan ada di akun Operator Simpatika Kab/Kota. Sehingga prosedur, tata cara, dan kelengkapan berkas untuk mendapatkan Dispensasi Kelayakan Tunjangan bisa jadi 'agak berbeda' antar satu kabupaten/kota dengan kabupaten/kota lainnya.

Namun secara garis besar, untuk mendapatkan Dispensasi Kelayakan Tunjangan yang harus dilakukan oleh PTK adalah sebagai berikut:

  1. Guru yang memenuhi persyaratan di atas mengecek status kelayakan tunjangan di menu 'Analisa Tunjangan' pada akun Simpatika masing-masing. Jika sistem menyatakan 'Belum Layak Mendapatkan Tunjangan' silakan melakukan ajuan Dispensasi Kelayakan Tunjangan, sebaliknya jika sudah dinyatakan 'Layak Mendapatkan Tunjangan' tidak perlu memanfaatkan fitur ini.
  2. PTK tersebut jangan mencetak ajuan SKMT SKBK (S26) terlebih dahulu.
  3. Hubungi Penmad atau Admin Simpatika Kab/Kota masing-masing untuk mengajukan Dispensasi Kelayakan Tunjangan. Dimungkinkan Penmad (Admin Simpatika Kab/Kota) akan membuat 'Form Isian' (Formulir Pengajuan) yang harus diisi oleh PTK dengan mengetahui Kepala Madrasah dan Pengawas Madrasah masing-masing. Sampai saat ini belum ada form resmi dari pusat untuk ajuan dispensasi ini sehingga form ajuan bisa berbeda-beda antar Kab/Kota. Tetapi form tersebut paling tidak akan memuat nama lengkap dan NUPTK guru, alasan dispensasi (lihat syarat dispensasi di atas), dan nama satminkal.
  4. Admin Kabupaten/Kota dimungkinkan juga mensyaratkan guru yang mengajukan dispensasi untuk melampirkan beberapa berkas atau dokumen pendukung.
  5. Setelah Admin Kab/Kota menerima ajuan tersebut, Admin Kab/Kota akan memproses dan jika disetujui maka akan memberikan Dispensasi Kelayakan Tunjangan melalui akun Kab/Kota.
  6. Admin kab/kota akan mencetak 'Surat Dispensasi Kelayakan Tunjangan' yang ditujukan kepada PTK yang mengajukan.
  7. Setelah mendapatkan persetujuan, dengan terbitnya 'Surat Dispensasi Kelayakan Tunjangan', PTK dapat melakukan pengecekan di status kelayakan tunjangan (menu Analisa Tunjangan) di akun PTK yang bersangkutan. Status yang semula berbunyi 'belum layak mendapat tunjangan' berubah menjadi 'layak mendapat tunjangan'.
  8. Setelah itu, PTK dapat memproses SKMT dan SKBK (Cetak S26) sebagaimana prosedur dan tata cara pengajuan SKMT dan SKBK.

Surat Dispensasi Kelayakan Tunjangan


Dan akhirnya, di akhir proses pengajuan SKMT dan SKBK, guru tersebut akan mendapatkan SKBK (S26e) dengan status 'Layak Mendapatkan Tunjangan'.

3. Bagi Guru Mapel yang Mengajar Guru Kelas di MI


Banyak yang berharap fitur Dispensasi Kelayakan Tunjangan ini menjadi solusi bagi guru mapel yang mengajar sebagai guru kelas di Madrasah Ibtidaiyah. Sampai saat ini, meskipun telah terbit KMA Nomor 303 Tahun 2016 tentang Konversi Guru Mapel ke Guru Kelas MI, namun kenyataannya di Simpatika guru-guru tersebut masih tetap dianggap tidak linier.

Akibatnya, status kelayakan tunjangan (di menu Analisa Tunjangan) tercatat 'Belum Layak Mendapatkan Tunjangan'.

Secara teori, fitur Dispensasi Kelayakan Tunjangan memang bisa merubah status 'Belum Layak' menjadi 'Layak' pada guru mapel yang mengajar guru kelas di MI. Namun sayangnya, dalam kedua Surat Dirjen Pendis di atas (Nomor 3570/05.I/Set.I/PP.00.11/09/2016 dan Nomor 1134.A/Dj.I/Dt.I.I/2/HM.01/09/2016) tidak mengakomodasi guru mata pelajaran yang mengajar sebagai guru kelas MI.

Demikian sedikit ualsan tentang fitur Dispensasi Kelayakan Tunjangan. Tentang kepastian persyaratan, prosedur, dan tata cara pengajuan dispensasi, silakan hubungi Penmad atau Admin Simpatika Kab/Kota masing-masing.
Read more

Tuesday, September 27, 2016

Kenapa Masih Tidak Linier Juga?

Kenapa masih tidak linier?, Ini menjadi sebuah pertanyaan yang paling menakutkan bagi Operator Madrasah dan PTK terkait dengan layanan Simpatika. Linier menjadi sangat diharap-harapkan. Setelah selesai mengisi Jadwal Mengajar Mingguan, Mengelola Siswa, menetapkan Pejabat Madrasah dan Tugas Tambahan, serta lain sebagainya, kata 'linier' dalam Analisa Tunjangan sangat diharapkan. Namun tidak sedikit yang muncul kemudian justru sebaliknya, 'tidak linier'.

Status tidak linier menyebabkan status kelayakan tunjangan (di menu Analisa Tunjangan) menjadi "Tidak Layak Mendapat Tunjangan". dan ini akan berakibat langsung terhadap SKBK dan pembayaran tunjangan profesi PTK tersebut.

Pertanyaan selanjutnya yang mengemuka pastilah, kenapa tidak linier? Bagaimana caranya agar bisa menjadi linier?

Kenapa Tidak Linier

Tidak jarang jika pertanyaan terkait linieritas ini sering kali dikemukakan oleh pembaca Simpatika Pati. Seperti pertanyaan berikut ini.


Linieritas terkait erat dengan Nomor Registrasi Guru (NRG). Beberapa kondisi yang menyebabkan tidak linier dan solusi agar bisa menjadi linier akan diulas di bawah ini.

Berikut beberapa penyebab 'tidak linier' tersebut.

1. Status Verval NRG


Kunci utama status linier atau tidak linier ditentukan oleh status Verval NRG. PTK yang belum disetujui Verval NRG (NRG belum permanen) maka akan membuat statusnya menjadi tidak linier.

Apalagi bagi guru yang belum memiliki NRG, pasti tidak linier.

Karena itu pastikan Verval NRG telah terselesaikan dan disetujui oleh Admin Simpatika tingkat Kanwil Kemenag. Untuk mengecek status Verval NRG, klik menu 'Verval NRG & Sertifikasi' pada akun PTK masing-masing seperti gambar berikut ini.

status Verval NRG

Atau di bagian menu 'Diklat dan Sertifikasi'

Riwayat Sertifikasi

2. Kesesuaian Mapel yang Diajar dengan Mapel Sertifikasi


Tidak jarang terjadi, telah lulus sertifikasi guru dan telah selesai Verval NRG (NRG telah disetujui oleh Kanwil) tetapi masih juga tidak linier.

Apa penyebabnya?

Mata pelajaran yang diajarkan (yang diisikan di Jadwal Mengajar Mingguan) harus sesuai dengan mata pelajaran sertifikasi sebagaimana tercantum dalam Verval NRG. Karena itu jika mendapati kasus seorang PTK telah Verval NRg tetapi belum juga linier maka silakan dicek data-data berikut ini.

  1. Mata pelajaran sertifikasi yang tercantum di bagian menu 'Diklat dan Sertifikasi'
  2. Kode mapel sertifikasi sebagaimana tercantum pada digit ke-7, 8, dan 9 Nomor Peserta Sertifikasi dan digit ke-3, 4, dan 5 Nomor Registrasi Guru (NRG)
  3. Mata pelajaran yang diajarkan (yang diisikan dalam Jadwal Mengajar Mingguan di Simpatika)
  4. Referensi Mapel Nasional (Kurikulum Nasional) dalam mapel yang dibuat di Simpatika


Silakan dicek 'Riwayat Sertifikasi Guru' yang bersangkutan di menu 'Diklat dan Sertifikasi'. Perhatikan sebagaimana gambar berikut ini.

Riwayat Sertifikasi Guru

Perhatikan:

  • Cek kode mapel sertifikasi
Kode mapel sertifikasi yaitu digit ke-3, 4, dan 5 NRG dan digit ke-7, 8, 9 Nomor Peserta (dalam gambar tertulis 028). Lalu cek kode mapel tersebut di halaman "http://simpatika.kemenag.go.id/#!/mapel". Setelah dicek ternyata '028' adalah kode mapel untuk mata pelajaran 'Guru Kelas MI'
Kode Mapel Simpatika


Karena '028' merupakan kode mapel untuk Guru Kelas MI maka agar linier, maka guru tersebut harus mengampu sebagai Guru Kelas MI. Jika mengajar mata pelajaran PAI MI atau Bahasa Indonesia di MTs. Maka bisa dipastikan tidak linier.

Dalam beberapa kasus Verval NRG, yang dijadikan pedoman linieritas adalah nama mapel sertifikasi sebagaimana tertulis di menu 'Diklat dan Sertifikasi'. Karena tidak menutup kemungkinan terdapat kode mapel yang tidak sesuai dengan nama mapel (faktor inkonsistensi kode mapel dalam sertifikasi). Selengkapnya baca : Kasus Verval NRG Pilihan Kode Mapel Tidak Sama dengan Sertifikat


  • Referensi Mapel Nasional (Kurikulum Nasional)

Referensi Mapel Nasional (Kurikulum Nasional) bisa dicek di login "Sekolah" pada menu Sekolah >> Kurikulum >> Daftar Mata Pelajaran atau Daftar Muatan Lokal. Perhatikan gambar berikut ini.


Referensi Mapel Nasional (Kurikulum Nasional)

Referensi Mapel Nasional (Kurikulum Nasional) ini harus sesuai dengan kode mapel atau mapel dalam sertifikasi (hasil Verval NRG). Jika tidak sama, atau justru mata pelajarannya tidak memiliki Referensi Mapel Nasional (Kurikulum Nasional), maka akan menyebabkan menjadi tidak linier.

Mata pelajaran yang tidak memiliki Referensi Mapel Nasional (Kurikulum Nasional) dapat juga dicek di menu "Analisa Tunjangan" pada akun PTK yang bersangkutan. Perhatikan gambar berikut ini.

Mapel tanpa kurikulum nasional

Jika tidak sama atau mapel yang diisikan tidak memiliki Referensi Mapel Nasional (Kurikulum Nasional), silakan hapus mapel tersebut lalu buat mata pelajaran baru untuk mapel tersebut. Selanjutnya edit Jadwal Mengajar Mingguan dan ganti mapelnya dengan mapel yang baru tersebut (yang memiliki Referensi Mapel Nasional). Menghapus dan membuat mapel baru bisa dilakukan di akun Sekolah (Simpatika Layanan Sekolah) pada menu Sekolah >> Kurikulum >> Daftar Mata Pelajaran atau Daftar Muatan Lokal. 

Baca juga: 


Itulah beberapa hal yang menjadi pemyebab mata pelajaran di Simpatika tidak linier dan solusinua agar mapel tersebut berubah menjadi linier.



Read more

Sunday, September 25, 2016

Aturan Siswa dan Rombel di Simpatika (Studi Kasus Rasio Siswa)

Layanan Simpatika telah menggunakan aturan terkait dengan rasio guru berbanding siswa. Sehingga aturan tentang siswa minimal dan rombel di layanan Simpatika harus diperhatikan benar-benar demi suksesnya Verval Simpatika dan terpenuhinya beban kerja mengajar guru, utama guru dengan sertifikat pendidik.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, pasal 17, disebutkan bahwa   Guru Tetap  pemegang  Sertifikat  Pendidik  berhak mendapatkan  tunjangan  profesi  apabila  mengajar  di satuan pendidikan yang rasio minimal jumlah peserta didik terhadap Gurunya sebagai berikut:

  • untuk TK, RA, atau yang sederajat 15:1
  • untuk SD atau yang sederajat 20:1
  • untuk MI atau yang sederajat 15:1 
  • untuk SMP atau yang sederajat 20:1
  • untuk MTs atau yang sederajat 15:1 
  • untuk SMA atau yang sederajat 20:1  
  • untuk MA atau yang sederajat 15:1  
  • untuk SMK atau yang sederajat 15:1
  • untuk MAK atau yang sederajat 12:1

Berdasarkan PP No. 74 tahun 2008 tersebut, jelas bahwa untuk RA dan Madarsah, rasio idealnya adalah 1 guru berbanding 15 (kecuali pada MAK yang 1:12).

Aturan Siswa Minimal dan Rombel

Baca Juga:

Aturan Siswa dan Rombel di Simpatika


Simpatika pun memberlaku PP tersebut, utamanya dalam penghitungan kelayakan mendapat tunjangan (SKBK), meskipun tidak secara penuh. Tidak penuh karena sampai saat ini ternyata masih membuka pengecualian untuk guru dengan siswa di bawah 15 perkelasnya.

Artinya, dengan pertimbangan khusus, guru yang mengajar pada rombongan belajar dengan peserta di bawah 15 siswa pun masih lolos dari kriteria "Rasio Siswa" ini. Dalam 'Analisa Tunjangan' mereka masih mendapat label, "Layak Mendapat Tunjangan".

Hal inilah yang kemudian memunculkan sedikit 'kreatifitas' operator madrasah dan kepala madrasah.

Beberapa pihak (Kepala Madrasah dan Operator) kemudian memecah rombel kelasnya hingga dengan peserta seminimal mungkin. Bahkan dengan peserta rombel yang kurang dari 15 siswa sekalipun. tentu dengan harapan, semakin banyak rombel maka akan semakin banyak guru yang dapat memenuhi ketentuan 'minimal mengajar 24 JTM'.

Apakah seperti itu?

Namun yang harus dipahami, ternyata Simpatika telah memiliki pedoman (aturan) khusus terkait dengan rombel dan siswa minimal tersebut. Pelanggaran terhadap aturan ini membuat Kepala Madrasah tidak bisa mencetak S25a karena muncul peringatan Alokasi JTM, seperti telah dibahas di artikel Simpatika Pati sebelumnya.

Aturan tersebut adalah:

  • Kelas (Tingkat) dengan 1 Rombel, Pesertanya Boleh Kurang dari 15 Siswa

Suatu tingkat kelas yang tidak paralel (hanya terdiri atas 1 rombel) siswanya boleh kurang dari 15. Contoh, pada sebuah MI, kelas 6-nya hanya memiliki 14 siswa. Meskipun siswa kelas 6 tersebut kurang dari 15 tidak masalah. Kepala Madrasah akan tetap dapat mencetak S25a karena memang di madrasah tersebut tingkat (kelas) 6 memang hanya terdiri atas satu rombongan belajar. 

  • Kelas (Tingkat) dengan Lebih dari 1 Rombel, Pesertanya Tidak Boleh Kurang dari 15 Siswa
Namun akan menjadi berbeda jika dalam tingkat itu terdiri atas lebih dari 1 rombongan belajar. Maka setiap rombongan belajar, pesertanya (siswa) tidak boleh kurang dari 15 siswa.

Contoh sebuah MI kelas 6-nya terdiri atas 44 siswa. Kelas tersebut dibuat menjadi 3 rombel dengan komposisi masing-masing rombel terdiri atas:
  • Kelas 6A: 15 siswa
  • Kelas 6B: 15 siswa
  • Kelas 6C: 14 siswa
Terdapat satu rombel yang siswanya kurang dari 15 siswa.

Kondisi ini akan membuat Kepala Madrasah tidak dapat mencetak S25a karena akan muncul peringatan "Alokasi JTM" dengan keterangan "Jumlah rombel melebihi siswa".

Sehingga jika di kelas 6 tersebut terdapat 44 siswa, maka rombel maksimal yang bisa dibuat cukup 2 rombel. Mungkin komposisinya 15 dan 29 siswa, 22 dan 22 siswa, atau lainnya asalkan tidak ada rombel yang pesertanya di bawah 15 siswa.

Kesimpulannya: 
  • Jika peserta kelas kurang dari 15 siswa, silakan ditulis apa adanya tidak masalah. Kepala Madrasah akan tetap bisa mencetak s25a.
  • Jika lebih dari 15 siswa, boleh dibuat menjadi lebih dari satu rombel dengan catatan tidak ada rombel yang pesertanya kurang dari 15 siswa. Jika terdapat rombel yang kurang dari 15 siswa maka Kepala Madrasah tidak dapat mencetak S25a.
Read more

Thursday, September 22, 2016

Sudah Upload Siswa Tapi Tidak Masuk Sampai Berhari-hari

Saat upload siswa secara kolektif (menggunakan excel) dilayanan Simpatika, biasanya muncul pemberitahuan untuk menunggu maksimal selama 1 x 24 jam. Biasanya tanpa menunggu hitungan menit, begitu di-refresh, data siswa yang diupload sudah masuk ke daftar siswa. Namun dalam beberapa kasus tidak.

Bahkan telah ditunggu hingga lebih dari sehari semalam pun, data siswa masih tetap kosong. Hingga berhari-hari, siswa yang di-upload tidak juga kunjung masuk ke dalam daftar siswa.

Upload Siswa Tapi Tidak Masuk

Baca juga: 6 Pengelolaan Siswa di Simpatika (Mengaktifkan, Naik Kelas, Tambah, Rombel)

Padahal sudah muncul pemberitahuan bahwa 'Data Siswa Berhasil Dikirim Dalam Antrian', seperti gambar berikut ini.

Unggah siswa tidak masuk

Sudah berhasil mengunggah tapi ditunggu hingga berhari-hari kok daftar siswanya tidak masuk juga?

Berhasil Terkirim tetapi Belum Tentu Berhasil Disimpan Sistem


Yang harus dipahami dan digarisbawahi, notifikasi seperti gambar diatas tersebut belum menjamin bahwa data siswa yang diunggah berhasil dimasukkan (disimpan) ke dalam sistem. Belum menjamin bahwa tidak terdapat kesalahan data siswa tersebut.

Dengan kata lain, pesan tersebut hanya menyampaikan bahwa data siswa yang diunggah "BERHASIL DIKIRIM" tetapi "BELUM TENTU BERHASIL DISIMPAN" dan dimasukkan ke dalam sistem.

Karena unggahan tersebut sejatinya masih dalam antrian untuk diproses dan diteliti oleh sistem. Jika ternyata tidak ada kesalahan, data akan langsung dimuat di daftar siswa. Namun jika terdapat kesalahan, data tidak akan muncul.

Silakan perhatikan dan pahami kalimat yang berwarna merah "Silakan kembali dalam beberapa menit lagi (maksimal 1x24 jam) dengan klik tombol Unggah untuk melihat hasil prosesnya".

1. Data Berhasil Disimpan


Jika setelah beberapa menit (atau maksimal 1 x 24 jam) ketika operator membuka daftar siswa, data siswa yang diunggah tadi sudah masuk ke dalam daftar siswa berarti data tersebut sudah benar dan dapat diterima sistem.

Dalam kondisi seperti ini (data berhasil disimpan oleh sistem), ketika tombol unggah (tanda panah ke atas) diklik kembali akan muncul pemberitahuan bahwa "Data berhasil disimpan" (lihat bagian yang diberi kotak merah pada gambar berikut ini.

Unggah data Siswa Berhasil

2. Data Dalam Antrian


Jika dalam beberapa menit, ketika operator membuka daftar siswa dan mendapati masih kosong, atau data yang sebelumnya diunggah belum masuk juga ada kemungkinan unggahan tersebut masih dalam antrian.

Untuk memastikannya, silakan klik kembali tanda panah ke atas (tombol unggah). Akan muncul pemberitahuan seperti gambar berikut ini.

Unggah Siswa dalam antrian

Perhatikan bagian yang kami beri kotak merah. Disebutkan bahwa 'File yang Anda unggah masih dalam antrian, silakan cek kembali beberapa saat lagi'.

3. Data Gagal Disimpan

Jika dalam beberapa menit (atau bahkan lebih dari satu hari), daftar siswa masih kosong juga, selain dimungkinkan masih dalam antrian, bisa jadi juga data gagal disimpan oleh sistem. Gagal disimpan ini tentu dengan berbagai alasan.

Untuk mengecek apakah data unggahan tersebut masih dalam antrian atau gagal disimpan (beserta alasannya), caranya sama dengan yang diatas.

Pertama klik tanda panah ke atas (tombol upload). Setelah itu akan muncul pemberitahuan seperti gambar di bawah ini.


Di bagian yang kami beri kotak merah, disebutkan:

  • Jumlah kesalahan data
  • Alasan data gagal disimpan
Untuk melihat jenis kesalahan dan bagian-bagain data yang salah, silakan download file data siswa dengan cara mengklik tombol "Unduh File + Petunjuk Kesalahan" (lihat bagian dengan panah bernomor 2).

Di dalam file excel hasil download tersebut, bagian-bagian data yang salah akan diblok dengan warna merah. dan di pojok kanan atas akan muncul alasan dan petunjuk kesalahan tersebut. Silakan perbaiki bagian-bagian yang berwarna merah kemudian simpan dan upload ulang.

Lebih Sehari Unggah Siswa Belum Masuk


Nah, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, jika sampai lebih dari satu hari (atau bahkan berhari-hari), data siswa yang diunggah belum juga masuk ke dalam daftar siswa, bisa dipastikan UNGGAHAN GAGAL DISIMPAN atau DITOLAK SISTEM.


Sehingga jika sudah lebih dari sehari kok upload siswa belum masuk dan daftar siswa masih kosong, silakan ikuti langkah-langkah sebagaimana dijelaskan di sub-bagian nomor tiga artikel ini.
Read more

Tuesday, September 20, 2016

Modul Pengelolaan Siswa dan Rombel Simpatika Sedang Error

Sejak pagi (Selasa, 20/11/2016) banyak yang menghubungi Admin Simpatika Pati, baik lewat Fans Fage FB Simpatika Pati, Messenger FB, maupun media sosial lainnya, terkait kendala yang dihadapi Operator Simpatika terkait modul Pengelolan Siswa dan Rombongan Belajar (Rombel) di layanan Simpatika. Semula ini hanya ingin kami post di Fans Fage FB, namun karena kelihatannya rada panjang sehingga akhirnya menjadi sebuah postingan di blog ini.

Kendala yang dihadapi adalah terkait pengelolaan siswa dan rombel. Banyak Operator Simpatika di tingkat Madrasah yang melaporkan masalah yang serupa.

Pengelolaan Siswa dan Rombel Simpatika Sedang Error

Berikut adalah contoh beberapa komentar tersebut:



Itulah beberapa komentar dan pertanyaan rekan-rekan Operator Madrasah terkait dengan tidak normalnya modul pengelolaan siswa dan kelas di Simpatika.

Sehari sebelumnya, juga muncul kendala yang agak mirip terkait dengan pengisian Jadwal Mengajar, penambahan mata pelajaran, dan penambahan rombel baru.



Simpatika Sedang Masuk Angin


Meski tidak ada pemberitahuan resmi dari Admin Simpatika Pusat, bisa dipastikan bahwa beberapa hari terkahir memang terjadi gangguan sistem di layanan Simpatika. Utamanya terkait dengan mata pelajaran, kelas, rombongan belajar dan siswa.

Apa penyebabnya?

Kendala ini dimungkinkan Tim Teknis sedang melakukan perbaikan sistem. Karena semenjak Modul Keaktifan Kolektif (Cetak S25) diaktifkan, sering kali sistem mendeteksi adanya 'jumlah rombel yang melebihi jumlah siswa'. Selengkapnya bisa dibaca di artikel : Solusi Tidak Bisa Cetak S25 Karena Alokasi JTM Merah

Sistem kemudian memunculkan kotak peringatan berwarna merah di atas tombol Ajuan Keaktifan Kolektif (Cetak S25). Dan dengan munculnya kotak merah tersebut, S25 tidak dapat dicetak.

Dalam beberapa kasus, peringatan tersebut muncul karena "Daftar Siswa yang telah Diupload" belum di masukkan ke "Rombel" masing-masing. Atau bahkan, belum melakukan "Upload Siswa".

Namun dalam banyak kasus, siswa telah diupload dan telah dimasukkan ke dalam rombel masing-masing tetapi sistem tetap memunculkan notifikasi "Jumlah Rombel Anda melebihi jumlah siswa". Admin Simpatika Pati sendiri tidak kurang telah melaporkan 5 madrasah yang mengalami kasus semacam itu langsung ke Admin Simpatika Pusat. Meskipun sampai saat ini belum mendapatkan jawaban.

Karena itu bisa ditarik kesimpulan bahwa beberapa hari terakhir, modul Keaktifan Kolektif, Siswa, dan Rombongan Belajar tengah bermasalah.

Menyikapi hal tersebut, Operator tidak perlu panik. Jika memang Simpatika sedang 'masuk angin' ya, ditunggu saja sambil ngopi.

Semoga segera teratasi.

Read more

Thursday, September 15, 2016

Solusi Tidak Bisa Cetak S25 Karena Alokasi JTM Merah

Saat fitur Cetak S25 di Simpatika dibuka, tidak sedikit Kepala Madrasah dan Operator Madrasah langsung mengajukan Keaktifan Kolektif. Namun ternyata tidak semuanya berjalan mulus. Beberapa madrasah harus mendapat kendala munculnya kotak peringatan berwarna merah di atas tombol Ajukan Verval. Bunyi tulisan dalam kotak merah tersebut adalah 'Alokasi JTM' dengan keterangan 'Cek kembali untuk memastikan data Anda benar'.

Adanya kotak peringatan berwarna merah dengan tulisan 'Alokasi JTM' tersebut tak urung membuat tombol Ajuan Verval (untuk mencetak S25a) tidak bisa diklik. Dan S25a pun tidak bisa dicetak.

Ketika kotak peringatan berwarna merah tersebut diklik muncul kotak notifikasi yang yang lebih besar yang memuat keterangan 'Validasi Alokasi Jam Mengajar Madrasah/Sekolah Anda. Daftar Mata Pelajaran Kelebihan Alokasi Jam. Jumlah Rombel Anda melebihi jumlah siswa. Untuk melakukan proses selanjutnya, maka pastikan Jumlah Jam mengajar harus SESUAI dengan jumlah Jam Alokasi,.

Peringatan seperti ini sebenarnya sudah pernah muncul pada periode Verval Simpatika semester yang kemarin. Namun kemunculannya kali ini tampaknya membawa pesan 'kendala' yang lebih kompleks.

Terus bagaimana solusi jika tidak bisa cetak S25 karena adanya kotak Alokasi Jam berwarna merah.

Yang pasti kotak peringatan tersebut muncul karena adanya kesalahan dalam pengisian data pada Simpatika. Oleh karena itu perlu dilakukan pengecekan kesalahan apakah yang telah dideteksi oleh sistem Simpatika tersebut.

Tak Bisa Cetak S25

Untuk membantu melakukan pengecekan, Simpatika Pati mencoba memberikan sedikit panduan, berdasarkan beberapa kali pengalaman penulis menemui kendala tersebut.

Pengecekan yang harus dilakukan antara lain:

Kasus Pertama


Di dalam kotak notifikasi kesalahan 'Validasi Alokasi Jam Mengajar Madrasah/Sekolah Anda' muncul tabel 'Daftar Mata Pelajaran Kelebihan Alokasi Jam'. Dalam tabel tersebut tertulis data kelas yang kelebihan jam.

Solusi yang bisa dilakukan adalah kembali ke modul Jadwal Mengajar Mingguan (login ke Layanan Simpatika Madrasah). Menunya terdapat di Sekolah >> Jadwal >> Lihat Jadwal Mingguan >> Pilih kelas/rombel sebagaimana yang disebutkan dalam notifikasi kesalahan 'Validasi Alokasi Jam Mengajar Madrasah/Sekolah Anda'.

Lakukan penyesuaian sehingga jam mengajar tidak melebihi alokasi yang ditentukan.

Cara mengeceknya bisa melihat video tutorial berikut ini:


Kasus seperti ini, di periode ini, tampaknya mulaijarang terjadi

Kasus Kedua


Di dalam kotak notifikasi kesalahan 'Validasi Alokasi Jam Mengajar Madrasah/Sekolah Anda' muncul keterangan, "Jumlah Rombel Anda melebihi jumlah siswa" seperti gambar di bawah.

Validasi Kelebihan JTM

Hal ini terjadi karena sistem mendeteksi jumlah rombel lebih banyak dibanding jumlah siswa di madrasah tersebut. Jumlah siswa yang melebihi rombel ini bisa saja terjadi dikarenakan salah satu diantara berikut:

  1. Siswa belum diupload
  2. Siswa sudah diupload tetapi belum dimasukkan ke dalam rombelnya masing-masing
Untuk memastikan kasus ini, cobalah klik tombol "Data Guru" di bagian 'Rekap Data Madrasah/Sekolah' pada menu Keaktifan Kepala Madrasah, hingga muncul kotak "Rekap Data Guru Madrasah/Sekolah Anda" seperti gambar berikut ini.

Rekap Data Guru Madrasah

Perhatikan kolom 'Rombel Ampu (R)'; 'Siswa Ampu (S)'; dan 'Rasio R:S'. Jika Siswa Ampu dan Rasio masih kososng dan strip berarti data siswa belum diunggah atau sudah diunggah tetapi belum dimasukkan ke dalam rombel masing-masing.

Solusi untuk permasalahan ini adalah memperbaiki data siswa yang meliputi mengupload  siswa dan memasukkan siswa ke dalam rombel. Untuk bagaimana cara mengelola siswa ini silakan baca artikel Simpatika Pati sebelumnya, 6 Pengelolaan Siswa di Simpatika.


Kasus Ketiga


Mungkin kedua kasus di atas sudah dicek dan ternyata beres semua. Atau sudah diperbaiki, namun masih saja muncul peringatan kotak Alokasi Jam berwarna merah di atas tombol Ajukan Verval (Cetak S25). Akibatnya pun masih sama, Kepala Madrasah tidak bisa mencetak S25a.

Solusi?

Bisa jadi pada kasus ketiga ini diakibatkan oleh 'cache browser' komputer. Karena itu solusi yang bisa dicoba antara lain:

  1. Bersihkan cache (tembolok), riwayat, dan data browser yang digunakan. Cara membersihkan cache browser bisa dilihat di artikel Selalu Gagal Upload Hasil Scan SK, sub judul "2. Bersihkan Cache Browser yang Digunakan".
  2. Gunakan browser lain. Jika sebelumnya memakai Google Chrome cobalah dengan menggunakan Firefox, Opera, atau browser lain.
  3. Gunakan mode penyamaran pada browser dengan mengaktifkan "Jendela Browser Pribadi"; "Jendela penyamaran" atau "Mode Incognito"
  4. Gunakan komputer atau laptop lain.

Kasus Keempat [Update]


Satu lagi yang kemudian menjadi penyebab dari tidak bisa dicetaknya S25a dengan menampilkan notifikasi "Jumlah Rombel Anda melebihi jumlah siswa". Tapi kasus ini umumnya hanya terjadi pada madrasah-amadrasah yang memiliki rombel paralel saja. Dan tidak terjadi pada madrasahnya yang perkelas tingkatnya hanya terdiri atas satu rombel saja.

Untuk RA dan Madrasah yang memiliki lebih dari satu rombel pada tiap kelas tingkatnya (paralel), pastikan siswa di setiap rombelnya tidak kurang dari 15 siswa. Sebagai contoh sebuah MTs dimana kelas 7 terdiri atas 70 siswa yang kemudian dibagi menjadi 5 rombel dengan jumlah siswa perrombelnya masing-masing:

  • Kelas 7A : 15 siswa
  • Kelas 7B : 15 siswa
  • Kelas 7C : 15 siswa
  • Kelas 7D : 15 siswa
  • Kelas 7E : 10 siswa
Berarti ada satu rombel yang siswanya kurang dari 15 siswa.

Kasus semacam ini akan membuat muncul peringatan kotak merah bertuliskan 'Alokasi JTM' yang bila diklik muncul keterangan "Jumlah Rombel Anda melebihi jumlah siswa".

Solusinya, pastikan setiap rombel siswanya minimal berjumlah 15 siswa. Jika terdapat rombel dengan peserta kelas (siswa) yang kurang dari 15 siswa, salah satu rombel harus dihapus dan siswanya digabung pada rombel lainanya.

Seperti contoh kasus pada MTs seperti di atas, jika kelas 7 terdiri atas 70 siswa maka jumlah rombel maksimalnya adalah 4 dengan masing-masing rombel minimal diisi oleh 15 siswa, sehingga menjadi seperti:

  • Kelas 7A : 15 siswa
  • Kelas 7B : 15 siswa
  • Kelas 7C : 15 siswa
  • Kelas 7D : 25 siswa

Demikianlah beberapa kasus terkait dengan munculnya kotak peringatan Alokasi Jam berwarna merah dan solusi tidak bisa mencetak S25 karena kemunculan kotak Alokasi JTM. Jika masih tidak bisa mencetak S25a, silakan berdiskusi di FansPage FB Simpatika Pati di @Admin.SimpatikaPati

Read more

Verval NRG Belum Disetujui Bolehkan Cetak S25a?

Akhir-akhir ini, seiring dengan diaktifkannya fitur S25 (Ajuan Keaktifan Kolektif), sering muncul pertanyaan apakah boleh mencetak S25a sedangkan ada salah satu guru yang proses Verval NRG-nya belum selesai (masih menunggu Kanwil Kemenag). Pertanyaan ini menyiratkan kegamangan para Operator, PTK, maupun Kepala Madrasah terkait dengan  banyaknya kasus dimana status linieritas guru yang belum linier karena terkendala berbagai masalah terutama status Verval NRG yang belum disetujui Kanwil Kemenag.

Jika terdapat guru yang belum tuntas verval NRG kemudian Kepala Madrasah mencetak S25a (Ajuan Keaktifan Kolektif) akankah berpengaruh terhadap guru tersebut?

Wajar jika muncul kegamangan tersebut dalam kasus tersebut. Ini lantaran setelah S25a dicetak, maka beberapa perubahan data terkait PTK akan ditutup. Tidak bisa dirubah! Beberapa hal yang tidak bisa diubah setelah dicetaknya S25a antara lain:

  1. Pengangkatan dan pergantian Kepala Madrasah dan tugas tambahan lainnya (semisal Wakil Kepala Madrasah, Wali Kelas, Pembina Ekstrakurikuler, Guru Piket, dll).
  2. Perubahan data siswa, seperti upload siswa, memasukkan siswa ke dalam rombel, mutasi, dll.
  3. Pengisian Jadwal Mengajar Mingguan


Pertanyaannya, bagaimana dengan Verval NRG yang belum disetujui Kanwil?

S25 vs Verval NRG

Tunggu atau Tinggalkan?


Jika ada salah satu guru yang ajuan S26 (Verval NRG) belum disetujui oleh Kanwil, apakah Kepala Madrasah harus menunda Cetak S25a (menunggu) ataukah tidak?

Ajuan S26 atau Verval NRG tidak terpengaruh langsung dengan Cetak S25a. Artinya:
  1. Guru yang belum Verval NRG masih dapat melakukan Verval NRG (Cetak S26) maupun Verval Ulang NRG, meskipun Kepala Madrasah telah mencetak S25a.
  2. Ajuan Verval NRG yang telah diajukan tetap dapat diproses oleh Admin Kab./Kota maupun Admin Kanwil Kemenag. Artinya, admin-admin tersebut masih dapat menyetujui maupun menolak Ajuan S26 tersebut, meskipun Kepala Madrasah telah mencetak S25a.
  3. Jika terdapat perubahan status di Verval NRG yang diajukan, sistem akan secara otomatis mencatat perubahan tersebut. Artinya, jika sebelumnya (Ajuan S26 belum disetujui), statusnya 'Tidak Linier' maka ketika ajuan tersebut telah disetujui oleh Kanwil, maka statusnya akan otomatis berubah menjadi 'Linier'.

Jadi tidak perlu ada kekhawatiran bagi PTK maupun Kepala Madrasah, apakah harus menunggu ataukah tidak Ajuan Verval NRG yang dilakukan oleh salah satu guru di madrasahnya.

Yang perlu diperhatikan adalah pemenuhan beban kerja (mapel dan jam mengajar) guru tersebut yang sudah benar sesuai dengan aturan yang berlaku, terutama terkait dengan penghitungan beban kerja dan linieraitas. Sehingga suatu ketika saat Ajuan Verval NRG tersebut sudah disetujui, statusnya yang semula tidak linier dapat otomatis berubah menjadi linier.

Kasus ini akan berbeda dengan saat Cetak SKMT dan SKBK. Jika status Verval NRG belum disetujui oleh Kanwil, maka saat melakukan Ajuan SKBK maka akan tertulis dengan 'Belum Layak Mendapat Tunjangan' karena faktor linieritas. Baca : Status NRG Belum Permanen Jangan Cetak SKMT & SKBK (S29)


Read more

Sunday, September 11, 2016

Kasus Verval NRG Pilihan Kode Mapel Tidak Sama dengan Sertifikat

Kasus pilihan kode mata pelajaran yang ditampilkan di Verval NRG tidak sama dengan nama mapel yang tertulis di sertifikat pendidik banyak terjadi. Pada periode Verval NRG yang lalu, kasus ketidakkonsistenan (inkonsistensi) kode mata pelajaran ini telah menjadi penyebab ditolaknya ajuan Verval NRG banyak guru oleh Admin Simpatika Kanwil. Alasan penolakannya, digit ke-7, 8, dan 9 tidak sesuai dengan mata pelajaran yang dipilih.

Karena itu Dirjen Pendis Kementerian Agama RI menerbitkan Surat Edaran Dirjen Pendia Nomor. 3459.A/Dj.I/PP.01.1/08/2016 tanggal 29 Agustus 2016 perihal Penyesuaian Kode Mapel Sertifikasi Guru dan Kewenangan Mengajar pada Madrasah. Oleh Simpatika, surat edaran tersebut diakomodir dengan mengupdate 'Modul Verval NRG'.

Verval NRG Pilihan Kode Mapel Tidak Sama dengan Sertifikat

Pada modul terbaru tersebut, saat seorang PTK melakukan Verval NRG, akan muncul dua kolom isian Mata Pelajaran. Yang pertama adalah mata pelajaran sesuai dengan standardisasi kode mapel sebagai tertulis di Nomor Peserta sertifikasi. Dan yang kedua adalah nama mata pelajaran sebagaimana yang tertulis di Sertifikat Pendidik.

Verval NRG Pilihan Kode Mapel Tidak Sama dengan Sertifikat

Pada kasus di atas, terdapat seorang guru bersertifikat pendidik. Nomor Peserta Sertifikasi peserta tersebut adalah 08031892520175 (digit ke-7, 8, dan 9 adalah 925). Sedangkan nama mata pelajaran yang tertera di sertifikat pendidik adalah Bahasa Arab untuk MTs. Ketika dicroscek dalam fitur 'kode mapel Simpatika', 928 adalah kode mapel untuk "Pengawas Seni dan Budaya SMA/MA", bukan Bahasa Arab. Padahal jelas yang tertulis di Sertifikat Pendidik mapelnya adalah Bahasa Arab.

Gambar Sertifikat Pendidik guru tersebut adalah sebagai berikut:

Verval NRG Pilihan Kode Mapel Tidak Sama dengan Sertifikat

1. Cara Verval NRG Bagi yang Bermasalah Dengan Kode Mapel


Bagaimana cara mengajukan Verval NRG bagi kasus pilihan kode mapel tidak sesuai dengan nama mapel di Sertifikat pendidik? Pun bagaimana bagi yang pada Verval NRG sebelumnya ditolak lantaran digit ke-7, 8, dan 9 pada nomor peserta tidak sesuai dengan nama mapel yang tertulis di sertifikat pendidik, inilah solusinya.

Bagi pemilik sertifikat pendidik dengan kasus seperti di atas, silakan lakukan Verval NRG sebagaimana video tutorial berikut ini.



Pada pilihan Nama Mata Pelajaran,
  • Mata pelajaran sesuai nomor peserta: silakan pilih sesuai pilihan yang tersedia, pilih yang sesuai dengan kode mapel, meskipun nama mapel berbeda.
  • Mata pelajaran sesuai tertulis di piagam sertifikasi: isi sesuai dengan yang tertulis di sertifikat pendidik. Jika tahun yang sesuai (yang tertera di kode) tidak tersedia, silakan pilih tahun sesukanya. Pastikan nama mapel sesuai dengan yang disertifikat, meskipun kode mapelnya tidak sesuai.


2. Bukan Konversi Mata Pelajaran Sertifikasi


Beberapa rekan PTK sempat menanyakan kepada penulis tentang cara melakukan konversi mata pelajaran sertifikasi, apakah caranya dengan menggunakan 'Modul Verval Terbaru' ini?

Mereka adalah guru-guru yang bersertifikat pendidik sebagai guru mapel seperti PAI, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, SBK, atu Bahasa Inggris yang kemudian mendapatkan tugas mengajar sebagai guru kelas (Baca : Guru Bersertikat Mapel Mengajar Guru Kelas, Sudahkah Linier?).

Menilik KMA Nomor 303 Tahun 2016 tentang Konversi Guru pada Jenjang Satuan Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, maka guru-guru yang telah memiliki sertifikat pendidik mata pelajaran, dapat mengampu sebagai guru kelas MI.

Namun sebagaimana sub judul di atas, modul dan cara ini bukan untuk mengakomodir Konversi Guru Mapel menjadi Guru Kelas. Apalagi merubah mata pelajaran dalam sertifikasi.

Untuk implementasi KMA Nomor 303 Tahun 2016 kita masih sama-sama menunggu dikeluarkannya aturan teknis yang mengaturnya.

3. Bukan untuk Nomor Peserta yang Kurang dari 14 Digit


Modul atau langkah-langkah Verval NRG di atas juga bukan untuk guru yang memiliki Nomor Peserta Sertifikasi yang tidak terdiri atas 14 digit. Karena untuk kasus Nomor Peserta yang 'aneh' tersebut telah disediakan fitur tersendiri yakni "Pengajuan Nomor Peserta Baru".

Untuk mendapatkan Nomor Peserta Baru tersebut silakan PTK menghubungi Admin kabupaten/Kota masing-masing. Karena yang memiliki akses untuk menerbitkannya adalah Admin Simpatika di tingkat Kabupaten/Kota.

4. Jika Verval NRg Terlanjur Disetujui Kanwil


Nah, kasus lagi adalah Verval NRG yang telah dilakukan jauh-jauh hari sebelum kasus 'inkonsistensi kode mapel' ini merebak. Bisa jadi ajuan Verval NRG tersebut telah disetujui oleh Kanwil dan berstatus permanen.

Untuk kasus ini, PTK yang bersangkutan dapat menghubungi Admin kanwil untuk meminta pembatalan Verval NRG dan melakukan Verval NRG ulang sesuai aturan di atas.

Tidak bisa dipungkiri kasus 'inkonsistensi kode mapel' dalam sertifikat pendidik ini telah menyita banyak energi baik bagi pendidik, operator madrasah, operator Kabupaten/Kota, maupun kanwil. Dengan munculnya solusi ini semoga kasus Verval NRG dengan pilihan kode mapel yang tidak sesuai dengan nama mapel di sertifikat, bisa berangsur-angsur terselesaikan tanpa merugikan para pendidik.
Read more

Thursday, August 25, 2016

Cara Mengubah Guru Menjadi Staf (Alih Fungsi) dan Sebaliknya

Cara mengubah status guru menjadi staf atau tenaga kependidikan di layanan Simpatika, beberapa kali ditanyakan oleh pembaca Simpatika Pati. Fitur merubah status dari guru menjadi staf dan sebaliknya dari staf menjadi guru ini sebenarnya fitur lama Simpatika. Dan sudah tersedia sejak Simpatika masih bernama Padamu Negeri. Namanya adalah fitur Alih Fungsi.

Meskipun fitur lama, namun tidak ada salahnya kali ini Simpatika Pati kembali mengulas tata cara dan prosedur alih fungsi PTK ini.

Dalam dinamikanya, PTK di sebuah madrasah bisa mengalami perubahan status. Dari yang semula seorang tenaga kependidikan (staf) berubah menjadi seorang guru. Ataupun sebaliknya, dari yang semula seorang pendidik menjadi tenaga kependidikan.

Fitur ini tentunya berbeda dengan otomatisasi guru non-S1 yang oleh sistem langsung dirubah menjadi staf. Namun bisa juga dimanfaatkan untuk merubah kembali Ajuan Izin Belajar (mengubah staf menjadi guru) yang tanpa sengaja dilakukan.

mengubah status guru menjadi staf

1. Cara Merubah Guru Menjadi Staf


Untuk melakukan alih fungsi dari guru menjadi staf, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

  1. Guru yang bersangkutan melakukan ajuan alih fungsi (cetak S16)
  2. S16 tersebut kemudian diajukan ke Admin Kab/Kota untuk dipermanenkan

A. Ajuan Alih Fungsi


Mencetak S16 (Ajuan Alih Fungsi) menggunakan akun PTK yang bersangkutan. Jadi harus dilakukan oleh PTK itu sendiri. Bukan oleh admin madrasah atau pun Kepala Madrasah melalui akun sekolahnya.

Adapun langkah-langkah untuk mencetak S16 sebagai ajuan merubah status dari guru menjadi staf adalah seperti video tutorial berikut ini.


B. Permanenkan Alih Fungsi


Setelah PTK berhasil mencetak S16, S16 tersebut diserahkan ke Admin Kabupaten/Kota untuk dipermanenkan. Selama belum mendapat persetujuan dari Admin Kab/Kota, maka perubahan status yang dilakukan belum tercatat oleh sistem (belum permanen) dan dapat dibatalkan kapan pun saja.

2. Cara Merubah Staf Menjadi Guru


Cara dan prosedur merubah staf menjadi guru sama seperti cara merubah guru menjadi staf.

Kecuali pada guru yang otomatis menjadi staf karena kualifikasi pendidikan yang belum D4/S1. Guru yang oleh sistem langsung dirubah menjadi staf tersebut dapat diubah kembali statusnya menjadi guru dengan prosedur Ajuan Ijin Belajar.

Tata cara dan prosedur mengajukan ijin belajar untuk merubah status guru yang otomatis menjadi staf kembali lagi menjadi guru dapat disimak di artikel Cara Ajuan Ijin Belajar (Merubah Staf Menjadi Guru Kembali).


Read more

Wednesday, August 24, 2016

Struktur Kurikulum MTs yang Digunakan Simpatika (KTSP dan K13)

Struktur Kurikulum Madrasah Tsanawiyah (MTs), baik KTSP maupun Kurikulum 2013 menjadi hal krusial dalam pengisian Jadwal Mengajar Mingguan dan perhitungan JTM perguru di layanan Simpatika. Karena itu, bagi Operator Simpatika MTs maupun Kepala MTs, harus memahami dengan benar struktur kurikulum yang dipergunakan.

MTs, seperti jenjang madrasah lainnya, dalam menyelenggarakan proses pembelajarannya terbagi menjadi dua. Pertama adalah madrasah yang menyelenggarakan Kurikulum 2013 dan kedua adalah madrasah yang menyelenggarakan KTSP. Kurikulum yang kedua ini lebih tepat disebut sebagai kurikulum kombinasi karena menggunakan KTSP untuk mata pelajaran umum sekaligus kurikulum 2013 untuk mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab.

Struktur kurikulum MTs yang harus diisikan dalam Simpatika bagi madrasah penyelenggaran KTSP tentu berbeda dengan MTs yang menyelenggarakan kurikulum 2013.


1. Struktur Kurikulum KTSP (Kombinasi) untuk MTs


Pemberlakukan kurikulum kombinasi (KTSP dan K13) ini berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 207 Tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah. KMA ini kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Dirjen Pendis No : SE/Dj.I/PP.00.6/1/2015 tertanggal 2 Januari 2015.

Inti dari keputusan tersebut adalah semua madrasah, termasuk MTs, menggunakan 'kurikulum kombinasi', yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 pada mata pelajaran umum dan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. Ini berlaku kecuali terhadap madrasah yang telah ditetapkan dalam pendampingan Kurikulum 2013.

Dengan pemberlakuan 'kurikulum kombinasi' tersebut maka struktur kurikulum yang digunakan pun merupakan kombinasi antara KTSP (2006) dan K13 (2013). Struktur kurikulum untuk mata pelajaran umum tetap mengacu pada Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2008. Sedangkan struktur kurikulum mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab merujuk pada Keputusan Menteri Agama Nomor 165 Tahun 2014.

Hasil kombinasi tersebut adalah sebagaimana tabel berikut ini, Struktur Kurikulum KTSP untuk MTs (KMA 207 Tahun 2014):


Keterangan: Pengembangan diri bukan mata pelajaran tetapi harus diasuh oleh guru.

Penambahan 4 JTM


Bagi Madrasah Tsanawiyah penyelenggara KTSP ini diberi kewenangan untuk menambah jam pelajaran hingga 4 JTM perminggunya pada tiap rombelnya. Selengkapnya tentang penambahan 4 JTM ini baca artikel : Penambahan 4 JTM dan Kaitannya dengan Linieritas SKBK

Sehingga alokasi jam mengajar untuk MTs adalah 41 + 4 untuk setiap tingkat kelasnya.

Untuk Madrasah Ibtidaiyah, baca: Struktur Kurikulum MI yang Digunakan Simpatika

2. Struktur Kurikulum K13 untuk MTs


Kurikulum 2013 diselenggarakan oleh madrasah-madrasah yang telah ditetapkan oleh Kemenag. Beberapa penunjukkan itu seperti melalui Keputusan Dirjen Pendis No 481 Tahun 2015 Tentang Penunjukan Madrasah Lanjut Kurikulum 2013; Keputusan Dirjen Pendis  No 5114 tahun 2015 tentang Penetapan Madrasah Pelaksana Kurikulum 2013 Tahun Pelajaran 2015/2016.

Struktur kurikulum yang digunakan oleh madrasah penyelenggara Kurikulum 2013, termasuk dalam isian jadwal mengajar Simpatika, mengikuti struktur kurikulum dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 165 Tahun 2015 tentang Pedoman Kurikulum Madrasah 2013 Mapel PAI dan Bahasa Arab.

Berdasarkan KMA tersebut, struktur kurikulum yang berlaku bagi Madrasah Tsanawiyah penyelenggara Kurikulum 2013 adalah sebagai mana tabel berikut:


Struktur kurikulum sebagaimana tabel di atas juga yang digunakan oleh Simpatika.

Untuk MTs pengguna K13, tidak ada penambahan 4 JTM seperti yang berlaku pada MTs penyelenggara KTSP.

Demikianlah kedua struktur kurikulum MTs, baik KTSP maupun K13, yang digunakan oleh Simpatika.

Read more

Tuesday, August 23, 2016

6 Pengelolaan Siswa di Simpatika (Mengaktifkan, Naik Kelas, Tambah, Rombel)

Mengelola siswa di Simpatika merupakan serangkaian tahapan dan cara terkait dengan mengaktifkan siswa dari semester sebelumnya, mengganti kelas siswa (siswa naik kelas), meluluskan siswa, dan melakukan mutasi siswa baik masuk maupun keluar. Juga cara memasukkan siswa ke dalam rombongan belajar masing-masing. Inilah 6 hal terkait pengelolaan siswa di Simpatika.

Mengelola siswa dalam layanan Simpatika menjadi salah satu hal yang krusial. Karena jumlah siswa di masing-masing kelas nantinya akan menjadi penghitungan rasio siswa-guru. Rasio siswa ini lah yang menjadi salah satu indikator layaknya seorang guru menerima tunjangan atau tidak dalam Ajuan SKBK.

Artikel pengelolaan siswa di Simpatika kali ini akan membahas tentang  6 hal sebagai berikut:

  1. Mengaktifkan Siswa Tahun Sebelumnya
    a. Siswa Naik Kelas
    b. Siswa Lulus
    c. Mutasi Siswa
  2. Memasukkan Siswa Baru
  3. Memasukkan Siswa Dalam Rombel
  4. Trik Cepat Memasukkan Siswa ke Rombel
  5. Trik Mengubah Format Tanggal di Excel Emis ke Simpatika
  6. Sinkronisasi Siswa di Emis dan Simpatika
Data Siswa Simpatika

Sekilas terlihat rumit. Namun sebenarnya proses dan tata cara mengelola siswa di layanan Simpatika sangat mudah.

1. Mengaktifkan Siswa Tahun Sebelumnya


Dalam mengelola siswa di layanan Simpatika, Operator Madrasah tidak perlu membuat data siswa setiap tahunnya. Karena siswa pada tahun sebelumnya akan otomatis berstatus sebagai "Siswa Belum Aktif Tahun Ajaran Sekarang".

Daftar siswa belum aktif ini cukup diunduh kemudian diedit pada tingkatan kelasnya (siswa naik kelas) dan dapat segera diupload kembali.

Jadi tidak dengan menambahkan atau membuat data siswa baru dari awal kembali.

Dalam proses mengaktifkan siswa yang belum aktif ini dapat juga dilakukan bersamaan dengan menambahkan siswa baru dan meluluskan siswa.

Cara mengaktifkan siswa belum aktif tahun ajaran sekarang (mengaktifkan siswa tahun sebelumnya) adalah sebagai berikut:

a. Mengunduh Daftar Siswa Tahun Sebelumnya
  1. Operator Madrasah atau Kepala Madrasah login ke Simpatika
  2. Pilih layanan Sekolah
  3. Setelah masuk ke Dasbor Sekolah, pilih menu "Siswa & Alumni" >> "Siswa" >> "Daftar Siswa"
  4. Klik "tanda panah ke bawah" untuk mengunduh daftar siswa tahun pelajaran yang lalu dalam format excel
  5. Data siswa tahun sebelumnya dapat juga diunduh melalui menu "Siswa & Alumni" >> "Siswa" >> "Daftar Siswa Belum Aktif Tahun Sekarang" lalu klik "tanda panah ke bawah"
  6. Simpan file excel hasil download tersebut

b. Mengedit Siswa

Mengedit Siswa meliputi menaikkan tingkat kelas siswa, dan meluluskan siswa.

Untuk mengedit data siswa di file excel yang telah diunduh tadi caranya adalah:
  1. Buka file excel yang telah diunduh
  2. Blok semua cell dan format menjadi "text"
  3. Untuk memudahkan pengeditan tingkat kelas, lakukan 'short' (pengurutan data) berdasarkan kelas.
  4. Untuk menaikkan tingkat kelas siswa, edit (ganti) tingkat kelas yang lama dengan tingkat kelas yang baru. Semisal yang tadinya kelas A menjadi B (pada RA), kelas 3 menjadi 4 (pada MI), kelas 8 menjadi 9 (pada MTs) dan sebagainya.
  5. Untuk meluluskan siswa, caranya:
    a. Pada RA, ganti tingkatnya menjadi 1
    b. Pada MI, ganti tingkat 6 menjadi 7
    c. Pada MTs, ganti tingkat 9 menjadi 10
    d. Pada MA, ganti tingkat 12 menjadi 13
  6. Siswa baru dapat langsung ditambahkan
  7. Simpan file excel
Yang harus diperhatikan ketika melakukan pengeditan siswa, adalah pada kolom kode sistem. Nomor yang tertera harus tetap dibiarkan seperti sedia kala (jangan dirubah).

Sedangkan untuk penambahan siswa baru, kolom Kode Sistem tidak perlu diisikan (dibiarkan kosong).

c. Mengupload Data Siswa

Setelah file excel data siswa selesai diisi / diedit, upload file tersebut dengan cara:
  1. Operator Madrasah atau Kepala Madrasah login ke Simpatika
  2. Pilih layanan Sekolah
  3. Setelah masuk ke Dasbor Sekolah, pilih menu "Siswa & Alumni" >> "Siswa" >> "Daftar Siswa"
  4. Klik tanda "panah ke atas" di pojok kanan atas
  5. Muncul jendela "Unggah Data Siswa", klik tombol "Pilih File"
  6. Muncul jendela pencarian file di komputer, cari file excel data siswa tadi, lalu klik "Open"
  7. Kembali ke jendela "Unggah Data Siswa". Klik "Unggah"
  8. Muncul notifikasi total jumlah siswa yang diupload dan pesan kesalahan
  9. Jika pesan kesalahanan berbunyi: "Tidak ada kesalahan dalam data", lanjutkan dengan mengklik tombol "Simpan"
  10. Jika muncul peringatan kesalahan, download file lalu lakukan perbaikan (kesalahan akan dituliskan di bagian kanan file excel)
  11. Setelah mengklik "Simpan" akan muncul pemberitahuan "Data Siswa Berhasil Dikirim dalam Antrian" dan diminta menunggu hingga 1 x 24 jam. Tetapi biasanya data siswa langsung masuk beberapa saat kemudian. Untuk mengecek silakan masuk ke menu "Siswa & Alumni" >> "Siswa" >> "Daftar Siswa"

3. Memasukkan Siswa Baru


Memasukkan siswa baru dapat dilakukan bersamaan dengan mengedit siswa tahun sebelumnya (sekaligus satu file). Namun dapat juga dengan menggunakan file tersendiri. Format file excel yang digunakan harus sama.

Cara upload file, sama dengan cara di atas.

Video Tutorial Mengaktifkan dan Memasukkan Siswa Baru

Tutorial cara mengedit siswa (meliputi menaikkan tingkat kelas siswa, dan meluluskan siswa), menambahkan siswa baru, dan mengupload data siswa dapat disimak di video tutorial berikut ini.

Video ini memang dibuat pada Oktober 2015 (saat awal-awal Padamu Negeri berganti menjadi Simpatika) tetapi tata cara dan prosedurnya masih tetap sama, sehingga video tutorial tersebut masih tetap relevan.


3. Memasukkan Siswa Dalam Rombel


Setelah siswa berhasil diunggah dan masuk ke "Daftar Siswa" bukan berarti pekerjaan mengelola siswa selesai. Siswa-siswa tersebut harus dimasukkan ke dalam rombongan belajar masing-masing. Siswa dalam rombongan belajar ini yang kemudian menjadi dasar penentuan rasio siswa dalam S25a maupun dalam SKMT & SKBK.

Untuk memasukkan siswa ke dalam rombelnya masing-masing caranya adalah seperti dalam video tutorial berikut ini.


4. Trik Cepat Memasukkan Siswa ke Rombel


Bagi madrasah yang memiliki banyak rombongan belajar, memasukkan siswa dalam rombel bisa jadi menjadi pekerjaan yang melelahkan dan menjemukan karena memerlukan ketelitian tinggi. Tentunya agar siswa dapat masuk di rombelnya masing-masing dengan tepat.

Bagi madrasah yang memiliki rombel lebih dari satu pada masing-masing tingkat kelasnya, ada trik cepat dan mudah.

Sebagai contoh, sebuah MTs terdiri atas beberapa rombel yang meliputi, kelas 7 tiga rombel (7A, 7B, dan 7C), kelas 8 terdiri atas 2 rombel (8A dan 8B), dan kelas 9 terdiri atas 3 rombel (9A, 9B, dan 9C).

Yang harus dilakukan adalah membagi file excel data siswa menjadi beberapa bagian. Upload siswa dalam satu rombel, lalu memasukkan siswa dalam rombelnya, baru mengupload siswa rombel lainnya. Sebagai gambaran simak ilustrasi berikut ini:
  1. Bagi siswa menjadi beberapa file. File pertama berisikan siswa yang telah lulus, siswa kelas 7A, 8A, dan 9A.
  2. Setelah berhasil diupload masukkan siswa-siswa tersebut ke rombelnya. Saat memasukkan siswa kelas 7, Operator tidak perlu memilih siswa karena semua siswa yang diupload adalah siswa kelas 7A saja, tidak ada siswa kelas 7B dan 7C.
  3. Lakukan hingga semua siswa masuk ke rombelnya.
  4. Setelah selesai upload lagi siswa. Tetapi sekarang ganti siswa dari kelas 7B, 8B, dan 9B
  5. Setelah berhasil diupload masukkan siswa-siswa tersebut ke rombelnya.
  6. Upload lagi siswa untuk kelas 7C dan 9C
  7. Masukkan siswa-siswa tersebut ke rombelnya.

5. Trik Mengubah Format Tanggal di Excel Emis ke Simpatika


Satu lagi trik adalah cara mengubah format tanggal di excel EMIS ke excel Simpatika. Perlu diketahui bahwa format tanggal yang digunakan EMIS dan Simpatika berbeda.

Simpatika menggunakan format Tahun-Bulan-Tanggal (YYYY-MM-DD) sedangkan Emis menggunakan format Tanggal-Bulan-Tahun (DD-MM-YYYY). Masalah lagi, keduanya harus berformat "Text" sehingga kita tidak bisa merubah format tanggal secara langsung di lembar kerja excel.

Dengan trik ini tentunya akan lebih mempercepat dan memudahkan kerja Operator Madrasah karena tidak harus membuat data baru. Operator cukup melakukan copy paste dari data excel Emis.

Nah, berikut ini adalah video tutorial cara mengubah format tanggal yang digunakan emis ke format tanggal yang digunakan Simpatika.


6. Sinkronisasi Siswa di Emis dan Simpatika


Nah, ini yang sangat diharap-harapkan oleh Operator se-Indonesia. Seandainya saja ada sinkronisasi antara Emis dan Simpatika, maka kerja operator akan semakin ringan.

Data siswa di Simpatika tidak perlu diupload secara manual, cukup dengan melakukan sinkronisasi dengan data emis, langsung terisi secara otomatis. 

Selain meringankan kerja operator, dengan sinkronisasi tersebut data siswa di Simpatika akan lebih valid. Ini mengingat bahwa selama ini, data siswa di Simpatika tidak melalui proses verifikasi dan validasi secara berjenjang. Operator dapat mengisikan berapapun siswa yang diinginkan. Proses verifikasi hanya bisa dilakukan oleh admin Kab/Kota ketika Kepala Madrasah melakukan Ajuan S25a dan SKMT/SKBK.

Namun kayaknya mimpi sinkronisasi Emis dan Simpatika ini masih panjang.

Demikianlah 6 hal terkait dengan pengelolaan data siswa di layanan Simpatika.

Read more

Monday, August 22, 2016

Cara Cetak S25a (Keaktifan Kolektif) Simpatika 2016/2017

Cara cetak S25a atau Ajuan Keaktifan Kolektif PTK di layanan Simpatika pada periode verval Semester Ganjil Tahun pelajaran 2016/2017, nyaris tidak berbeda dengan cara cetak S25a pada periode sebelumnya. Baik dalam hal tahapan, tata cara dan prosedur, maupun syarat mencetak Ajuan Keaktifan Kolektif PTK (Form S25a).

Namun karena beberapa pembaca menanyakannya, Simpatika Pati menuliskannya kembali syarat, tahapan, tata cara, dan prosedur Ajuan Keaktifan Kolektif PTK atau Cetak S25a.

Cetak S25a sendiri menjadi penanda seorang Kepala RA / Madrasah aktif untuk semester yang berjalan. Dengan melakukan cetak S25a, seorang Kepala RA/Madrasah pun dapat mencetak kartu digital Simpatika. Artinya, Kepala RA / Madrasah baru akan aktif dan dapat mencetak Kartu Digital Simpatika setelah melakukan Ajuan Keaktifan Kolektif PTK (Cetak S25a).

Cara Cetak S25a

1. Syarat untuk Mencetak S25a


Sebelum Kepala Madrasah melakukan cetak S25a, perhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Pastikan RA/Madrasah telah memiliki Kepala Madrasah aktif baik definitif atau Plt. Pengaktifan Kepala Madrasah hanya bisa dilakukan oleh Admin Kab/Kota dengan melakukan Ajuan A09.
  2. Pastikan semua PTK telah melakukan prosedur keaktifan diri dan mencetak kartu digital simpatika melalui akun PTK masing-masing. PTK yang telah melakukan keaktifan diri ditandai dengan bintang 4 berwarna kuning (bukan ungu) saat diceck di akun sekolah (pada menu Pendidik & Tenaga Kependidikan >> Direktori PTK >> Daftar Pendidik dan Tenaga Kependidikan) atau di menu pencarian Simpatika. Juga melalui akun PTK Kepala Madrasah di menu Keaktifan >> Data Guru dan Data Staf (PTK yang aktif statusnya berupa contreng hijau). Baca : Cara Mencetak Kartu Simpatika.
  3. Data siswa telah ditambahkan dan dimasukkan ke dalam rombel masing-masing. jadi selain melakukan upload data siswa (dan mengaktifkan/meluluskan siswa dari semester sebelumnya) juga telah memasukkan siswa-siswa tersebut ke dalam rombel masing-masing. Karena ini nanti terkait dengan rasio siswa dan guru sebagai salah satu penentu kelayakan menerima tunjangan bagi guru.
  4. Data beban tugas mengajar yang tertulis dalam Jadwal Mengajar Mingguan telah benar. Beban mengajar masing-masing guru ini dapat dicek langsung di akun sekolah (pada menu Jadwal Mengajar Mingguan), di akun setiap PTK, atau melalui akun PTK Kepala Madrasah (di menu Keaktifan >> Data Guru).
  5. Tugas tambahan guru, sebagaimana KMA No. 103 Tahun 2015, telah diisikan dengan benar. Tugas tambahan akan memiliki jam ekuivalen yang diperhitungkan dalam pemenuhan benan tugas mengajar dalam cetak SKBK. Tugas tambahan ini meliputi:
    1. Wakil Kepala Madrasah (bagi jenjang MTs dan MA)
    2. Wali Kelas
    3. Pembina Ekstrakurikuler
    4. Pembimbing Kokurikuler
    5. Guru Piket
    6. Kepala Perpustakaan dan Laboratorium
Kelima hal di atas harus sudah disikan dengan benar sebelum Kepala RA/Madrasah melakukan Ajuan Keaktifan Kolektif PTK (Cetak S25a). Karena setelah Kepala melakukan cetak S25a maka akses untuk melakukan perubahan atas kelima hal di atas akan tertutup. So, Jangan Cetak S25 sebelum hal tersebut beres!

Cara menambahkan Wali Kelas


Cara menambahkan pembina ekstrakurikuler, kokurikuler, dan guru piket



Cara menambahkan dan mengangkat Pejabat Madrasah (Wakil Kepala Madrasah, Kepala Perpustakaan/Laboratorium, Pembina Asrama, Ketua Program Keahlian, Kepala Bengkel, dan Kepala Unit Produksi)



2. Cara Melakukan Cetak S25a (Keaktifan Kolektif PTK)


Seperti pada periode verval sebelumhya, cetak ajuan Keaktifan Kolektif PTK hanya bisa dilakukan melalui login Kepala Madrasah masing-masing dengan memilih layanan Simpatika PTK (bukan Sekolah). Adapun cara cetak S25a adalah sebagai berikut:


  1. Kepala RA/Madrasah login ke Simpatika (situs http://simpatika.kemenag.go.id) >> "login" >> "login PTK/Admin"
  2. Tulis NUPTK/SiapId/email dan password lalu klik "Masuk"
  3. Pada layanan simpatika, pilih Layanan "PTK" (jangan Sekolah)
  4. Klik menu "Keaktifan Diri"
  5. Cek Rekap Data PTK yang meliputi "Data Guru" dan "Data Staf" (jika ada staf). Pastikan syarat sebagai tersebut di atas mulai nomor 2 s.d 5 telah terpenuhi dengan benar.
  6. Jika terdapat kekurangan atau kesalahan, tunda dulu ajuan Keaktifan Kolektif dan lakukan perbaikan data yang diperlukan.
  7. Jika sudah benar, klik menu "Ajukan Verval"
  8. Cetak S25a
Langkah-langkah di atas dapat juga disimak dalam video tutorial berikut ini.



3. Prosedur Selanjutnya


Setelah berhasil mencetak S25a, bukan berarti pekerjaan telah selesai. Lakukan tahapan dan prosedur berikut ini untuk menuntaskannya.

  1. Setelah dicetak setiap PTK membubuhkan paraf (tanda tangan) sebagai tanda bukti persetujuan pada lampiran S25a.
  2. S25a dan setiap lembar dari Lampiran S25a ditandatangani oleh Kepala RA/Madrasah dan distempel.
  3. Ajukan S25a tersebut ke Admin Kab/Kota untuk mendapatkan persetujuan. 
  4. Admin Kab/Kota kan melakukan verifikasi dan validasi.
  5. Jika disetujui, Admin Kab/Kota akan menerbitkan Tanda Bukti Penerimaan Ajuan Keaktifan Kolektif (S25b)
  6. Setelah S25a disetujui, maka:
    1. Kepala RA/Madrasah dapat mencetak Kartu Digital Simpatika
    2. Data Riwayat Mengajar setiap guru dipermanenkan sehingga tercantum dalam portofolio PTK masing-masing.
Jangan lupa untuk mendokumentasi (arsip) S25a baik berupa fisik ataupun file. Karena S25a tidak akan dapat dicetak ulang setelah mendapatkan persetujuan dari Admin Kab/Kota. Padahal seringkali S25a dijadikan salah satu persyaratan (berkas pelengkap) dalam berbagai keperluan.

4. Menu Ajuan S25a Tidak Muncul


Sampai saat tulisan ini dipublikasikan, menu Ajuan S25a di akun Kepala RA/Madrasah memang belum dimunculkan (masih dinonaktifkan). Sehingga bagi Kepala RA/Madrasah tidak perlu cemas ketika belum dapat melakukan Ajuan Cetak S25a.

Belum aktifnya menu Cetak S25a ini bukan karena komputer yang bermasalah atau kuota internet yang menipis, namun memang karena berbagai pertimbangan dari Tim Teknis Simpatika Pusat.

Kapan fitur Cetak S25a diaktifkan?

Jawabnya, wallahu a'lam bishawab!

Read more

Sunday, August 21, 2016

Cara Ajuan Ijin Belajar (Merubah Staf Menjadi Guru Kembali)

Cara melakukan ajuan ijin belajar bagi guru yang kualifikasi pendidikannya belum S1 ini sekaligus merupakan cara merubah PTK yang otomatis menjadi staf kembali lagi menjafi guru. Dengan menjadi guru kembali secara otomatis PTK tersebut dapat diberikan jam mengajar saat mengisikan Jadwal Mengajar Mingguan di Simpatika.

Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005, kualifikasi pendidikan seorang guru, minimal adalah D4/S1. sehingga bagi guru yang belum D4/S1, oleh Simpatika akan otomatis dirubah menjadi tenaga kependidikan (staf).

Karena menjadi staf, maka guru tersebut tidak akan muncul saat pengisian Jadwal Mengajar Mingguan. Atau dengan kata lain tidak dapat diberikan jam mengajar.

Mulai periode Verval Simpatika Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017, Simpatika meluncurkan fitur baru yakni, Ajuan Ijin Belajar. Baca: Fitur dan Agenda Kegiatan Simpatika Semester 1 Tahun 2016/2017

Cara mengajukan Ijin Belajar

Dengan fitur Ajuan Ijin Belajar ini, seorang guru yang belum mencapai kualifikasi pendidikan D4/S1 dapat tetap mengajar (berstatus sebagai guru) di layanan Simpatika. Dengan fitur ajuan ijin belajar ini guru yang sebelumnya telah otomatis berubah menjadi staf (karena kualifikasi pendidikan belum D4/S1) dapat dirubah kembali menjadi guru.

Tutorial Cara Melakukan Ajuan Ijin Belajar


Bagaimana cara mengajukan ijin belajar bagi guru yang belum berkualifikasi pendidikan D4/S1?

Cara melakukan ajuan ijin belajar sekaligus merubah kembali staf menjadi guru adalah sebagai berikut:

  1. Login ke akun PTK yang bersangkutan
  2. Akan muncul beberapa notifikasi. salah satunya "Ajuan Ijin Belajar"
  3. Pada notifikasi Ajuan Ijin Belajar, di bagian bawah klik "Ajukan Ijin Belajar"


Ajuan Ijin Belajar

Selesai.

Sampai di sini, status PTK tersebut akan otomatis berubah dari yang semula staf menjadi guru kembali. PTK tersebut pun dapat diberikan jam mengajar pada isian Jadwal Mengajar Mingguan.

Namun, diperlukan langkah lanjutan agar status guru tersebut dapat terus melekat dan tidak berubah kembali menjadi staf.

Langkah-langkah yang dimaksud (untuk mempertahankan statusnya tetap guru) adalah dengan melakukan perubahan data riwayat pendidikan (cetak S12). Tambahkan riwayat pendidikan S1 yang tengah ditempuh. Caranya adalah:

  1. Pada akun PTK yang bersangkutan
  2. Klik menu Pendidikan >> Riwayat Pendidikan
  3. Klik tanda plus (+) di pojok kanan atas
  4. Muncul isian Tambah Riwayat Pendidikan
  5. Isikan kolom-kolom yang tersedia seperti: jenjang pendidikan dll
  6. Khusus untuk kolom tahun lulus, biarkan kosong (karena belum lulus)
  7. Klik tambahkan
  8. Klik Jadikan Permanen
  9. Muncul jendela Pengajuan Perubahan Data
  10. Centang kotak di depan penyataan lalu klik Setuju dan Cetak Ajuan
  11. Muncul Form S12 (Perubahan Data)
  12. Cetak S12 tersebut
  13. Serahkan S12 tersebut ke admin Simpatika Kab/Kota dengan dilampiri Surat Keterangan Sedang Menempuh S1 dari Perguruan Tinggi tempat PTK belajar


Jika kurang jelas dengan langkah-langkah di atas, simak video tutorial cara mengajukan ijin belajar berikut ini.



Demikianlah cara ajuan ijin belajar sekaligus merubah staf menjadi guru kembali dalam layanan Simpatika. Semoga tutorial ini bermanfaat.

Read more

Friday, August 19, 2016

Guru Bersertikat Mapel Mengajar Guru Kelas, Sudahkah Linier?

Dengan ditetapkannya Keputusan Menteri Agama Nomor 303 Tahun 2016 tentang Konversi Guru pada Jenjang Satuan Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, maka guru-guru yang telah memiliki sertifikat pendidik mata pelajaran, dapat mengampu sebagai guru kelas MI. Pertanyaannya adalah, apakah Simpatika telah mengakomodir hal tersebut?

Jika KMA Nomor 303 Tahun 2016 tersebut diakomodir oleh Simpatika maka dalam cetak SKMT-SKBK yang diajukan oleh guru mapel yang mengampu guru kelas akan tercatat sebagai linier. Dan hasil akhirnya, jika memenuhi persyaratan lainnya, maka guru tersebut mendapatkan notifikasi 'layak mendapat tunjangan' dalam SKBK-nya.

Tetapi kembali ke pertanyaan awal, apakah guru dengan sertifikat pendidik mata pelajaran yang kemudian diberikan tugas sebagai guru kelas sudah diakui oleh Simpatika dan dianggap linier?

Linieritas Guru Mapel Jadi Guru Kelas

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, admin Simpatika Pati mencoba melakukan pengecekan langsung dengan akun seorang PTK yang memiliki sertifikat pendidik Seni dan Budaya. Pendidik tersebut kebetulan mengajar di sebuah Madrasah Ibtidayah.

NRG pendidik tersebut pun telah permanen (telah tuntas dalam Verval NRG).

Bahkan pada dua tahun 2014 telah menerima tunjangan profesi dari mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan yang diampunya di MI tersebut.

Dengan ditetapkannya KMA Nomor 303 Tahun 2016 tentang Konversi Guru pada Jenjang Satuan Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, yang bersangkutan kemudian diangkat sebagai Guru Kelas V di satminkalnya.

Hasil Cek Linieritas Guru Bersertikat Mapel mengampu Guru Kelas


Untuk mengecek hasil linieritas guru mata pelajaran Seni Budaya saat mengampu sebagai guru kelas, tentunya terlebih dahulu guru tersebut diangkat sebagai wali kelas dan diisikan jadwal mengajar mingguan di kelasnya tersebut. Termasuk mengisikan daftar siswa pada rombongan belajarnya.

Setelah semua proses itu diselesaikan, akhirnya Simpatika pati melakukan pengecekan linieritas mata pelajaran Sang Pendidik.

Hasilnya adalah sebagaimana terekan dalam video berikut ini.



Ternyata mata pelajaran yang diampu oleh guru dengan sertifikat pendidik Seni dan Budaya tersebut masih dianggap tidak linier oleh Simpatika. Mulai dari mata pelajaran pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial dinyatakan sebagai tidak linier. Juga pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan dan Mulok Bahasa Daerah, masih dinyatakan belum linier juga.

satu-satunya mata pelajaran yang telah dianggap liniewr adalah Seni Budaya dan Keterampilan yang memang sesuai dengan sertifikat pendidik dan NRG yang dimiliki oleh guru tersebut.

Kesimpulannya, sampai saat tulisan ini dimuat, guru dengan sertifikat pendidik mata pelajaran belum linier ketika mengampu sebagai guru kelas.

Namun karena KMA Nomor 303 Tahun 2016 merupakan produk hukum yang sah, seharusnya Simpatika segera mengakomodirnya.

Menurut Admin Pusat Simpatika, sebagaimana Simpatika Pati kutip dari Fans Page Simpatika, mengungkapkan bahwa KMA 303 Tahun 2016 tidak serta merta mengijinkan semua mata pelajaran umum sertifikasi dikonversi menjadi guru kelas. Dibutuhkan penjelasan secara lebih rinci melalui aturan teknis dari Dirjen Pendis. Dan Tim Simpatika tengah menunggu terbitnya aturan resmi dari Dirjen Pendis tersebut untuk menetapkan linieritas guru mapel yang mengajar sebagai guru kelas di Madrasah Ibtidaiyah.

Semoga aturan teknis dari Dirjen Pendis terkait konversi guru mapel menjadi guru kelas tersebut secepatnya diterbitkan dan membawa angin segar bagi guru-guru madrasah.

Semoga ketidak-linieran tersebut hanya sementara saja. Kita tunggu saja beberapa hari ke depan sehingga pertanyaan, Guru dengan sertifikat mapel yang mengajar sebagai guru kelas, sudahkah linier? dapat dijawab dengan tegas: linier! Semoga.
Read more