Thursday, August 25, 2016

Cara Mengubah Guru Menjadi Staf (Alih Fungsi) dan Sebaliknya

Cara mengubah status guru menjadi staf atau tenaga kependidikan di layanan Simpatika, beberapa kali ditanyakan oleh pembaca Simpatika Pati. Fitur merubah status dari guru menjadi staf dan sebaliknya dari staf menjadi guru ini sebenarnya fitur lama Simpatika. Dan sudah tersedia sejak Simpatika masih bernama Padamu Negeri. Namanya adalah fitur Alih Fungsi.

Meskipun fitur lama, namun tidak ada salahnya kali ini Simpatika Pati kembali mengulas tata cara dan prosedur alih fungsi PTK ini.

Dalam dinamikanya, PTK di sebuah madrasah bisa mengalami perubahan status. Dari yang semula seorang tenaga kependidikan (staf) berubah menjadi seorang guru. Ataupun sebaliknya, dari yang semula seorang pendidik menjadi tenaga kependidikan.

Fitur ini tentunya berbeda dengan otomatisasi guru non-S1 yang oleh sistem langsung dirubah menjadi staf. Namun bisa juga dimanfaatkan untuk merubah kembali Ajuan Izin Belajar (mengubah staf menjadi guru) yang tanpa sengaja dilakukan.

mengubah status guru menjadi staf

1. Cara Merubah Guru Menjadi Staf


Untuk melakukan alih fungsi dari guru menjadi staf, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:

  1. Guru yang bersangkutan melakukan ajuan alih fungsi (cetak S16)
  2. S16 tersebut kemudian diajukan ke Admin Kab/Kota untuk dipermanenkan

A. Ajuan Alih Fungsi


Mencetak S16 (Ajuan Alih Fungsi) menggunakan akun PTK yang bersangkutan. Jadi harus dilakukan oleh PTK itu sendiri. Bukan oleh admin madrasah atau pun Kepala Madrasah melalui akun sekolahnya.

Adapun langkah-langkah untuk mencetak S16 sebagai ajuan merubah status dari guru menjadi staf adalah seperti video tutorial berikut ini.


B. Permanenkan Alih Fungsi


Setelah PTK berhasil mencetak S16, S16 tersebut diserahkan ke Admin Kabupaten/Kota untuk dipermanenkan. Selama belum mendapat persetujuan dari Admin Kab/Kota, maka perubahan status yang dilakukan belum tercatat oleh sistem (belum permanen) dan dapat dibatalkan kapan pun saja.

2. Cara Merubah Staf Menjadi Guru


Cara dan prosedur merubah staf menjadi guru sama seperti cara merubah guru menjadi staf.

Kecuali pada guru yang otomatis menjadi staf karena kualifikasi pendidikan yang belum D4/S1. Guru yang oleh sistem langsung dirubah menjadi staf tersebut dapat diubah kembali statusnya menjadi guru dengan prosedur Ajuan Ijin Belajar.

Tata cara dan prosedur mengajukan ijin belajar untuk merubah status guru yang otomatis menjadi staf kembali lagi menjadi guru dapat disimak di artikel Cara Ajuan Ijin Belajar (Merubah Staf Menjadi Guru Kembali).


Read more

Wednesday, August 24, 2016

Struktur Kurikulum MTs yang Digunakan Simpatika (KTSP dan K13)

Struktur Kurikulum Madrasah Tsanawiyah (MTs), baik KTSP maupun Kurikulum 2013 menjadi hal krusial dalam pengisian Jadwal Mengajar Mingguan dan perhitungan JTM perguru di layanan Simpatika. Karena itu, bagi Operator Simpatika MTs maupun Kepala MTs, harus memahami dengan benar struktur kurikulum yang dipergunakan.

MTs, seperti jenjang madrasah lainnya, dalam menyelenggarakan proses pembelajarannya terbagi menjadi dua. Pertama adalah madrasah yang menyelenggarakan Kurikulum 2013 dan kedua adalah madrasah yang menyelenggarakan KTSP. Kurikulum yang kedua ini lebih tepat disebut sebagai kurikulum kombinasi karena menggunakan KTSP untuk mata pelajaran umum sekaligus kurikulum 2013 untuk mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab.

Struktur kurikulum MTs yang harus diisikan dalam Simpatika bagi madrasah penyelenggaran KTSP tentu berbeda dengan MTs yang menyelenggarakan kurikulum 2013.


1. Struktur Kurikulum KTSP (Kombinasi) untuk MTs


Pemberlakukan kurikulum kombinasi (KTSP dan K13) ini berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 207 Tahun 2014 tentang Kurikulum Madrasah. KMA ini kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Dirjen Pendis No : SE/Dj.I/PP.00.6/1/2015 tertanggal 2 Januari 2015.

Inti dari keputusan tersebut adalah semua madrasah, termasuk MTs, menggunakan 'kurikulum kombinasi', yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 pada mata pelajaran umum dan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. Ini berlaku kecuali terhadap madrasah yang telah ditetapkan dalam pendampingan Kurikulum 2013.

Dengan pemberlakuan 'kurikulum kombinasi' tersebut maka struktur kurikulum yang digunakan pun merupakan kombinasi antara KTSP (2006) dan K13 (2013). Struktur kurikulum untuk mata pelajaran umum tetap mengacu pada Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2008. Sedangkan struktur kurikulum mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab merujuk pada Keputusan Menteri Agama Nomor 165 Tahun 2014.

Hasil kombinasi tersebut adalah sebagaimana tabel berikut ini, Struktur Kurikulum KTSP untuk MTs (KMA 207 Tahun 2014):


Keterangan: Pengembangan diri bukan mata pelajaran tetapi harus diasuh oleh guru.

Penambahan 4 JTM


Bagi Madrasah Tsanawiyah penyelenggara KTSP ini diberi kewenangan untuk menambah jam pelajaran hingga 4 JTM perminggunya pada tiap rombelnya. Selengkapnya tentang penambahan 4 JTM ini baca artikel : Penambahan 4 JTM dan Kaitannya dengan Linieritas SKBK

Sehingga alokasi jam mengajar untuk MTs adalah 41 + 4 untuk setiap tingkat kelasnya.

Untuk Madrasah Ibtidaiyah, baca: Struktur Kurikulum MI yang Digunakan Simpatika

2. Struktur Kurikulum K13 untuk MTs


Kurikulum 2013 diselenggarakan oleh madrasah-madrasah yang telah ditetapkan oleh Kemenag. Beberapa penunjukkan itu seperti melalui Keputusan Dirjen Pendis No 481 Tahun 2015 Tentang Penunjukan Madrasah Lanjut Kurikulum 2013; Keputusan Dirjen Pendis  No 5114 tahun 2015 tentang Penetapan Madrasah Pelaksana Kurikulum 2013 Tahun Pelajaran 2015/2016.

Struktur kurikulum yang digunakan oleh madrasah penyelenggara Kurikulum 2013, termasuk dalam isian jadwal mengajar Simpatika, mengikuti struktur kurikulum dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 165 Tahun 2015 tentang Pedoman Kurikulum Madrasah 2013 Mapel PAI dan Bahasa Arab.

Berdasarkan KMA tersebut, struktur kurikulum yang berlaku bagi Madrasah Tsanawiyah penyelenggara Kurikulum 2013 adalah sebagai mana tabel berikut:


Struktur kurikulum sebagaimana tabel di atas juga yang digunakan oleh Simpatika.

Untuk MTs pengguna K13, tidak ada penambahan 4 JTM seperti yang berlaku pada MTs penyelenggara KTSP.

Demikianlah kedua struktur kurikulum MTs, baik KTSP maupun K13, yang digunakan oleh Simpatika.

Read more

Tuesday, August 23, 2016

6 Pengelolaan Siswa di Simpatika (Mengaktifkan, Naik Kelas, Tambah, Rombel)

Mengelola siswa di Simpatika merupakan serangkaian tahapan dan cara terkait dengan mengaktifkan siswa dari semester sebelumnya, mengganti kelas siswa (siswa naik kelas), meluluskan siswa, dan melakukan mutasi siswa baik masuk maupun keluar. Juga cara memasukkan siswa ke dalam rombongan belajar masing-masing. Inilah 6 hal terkait pengelolaan siswa di Simpatika.

Mengelola siswa dalam layanan Simpatika menjadi salah satu hal yang krusial. Karena jumlah siswa di masing-masing kelas nantinya akan menjadi penghitungan rasio siswa-guru. Rasio siswa ini lah yang menjadi salah satu indikator layaknya seorang guru menerima tunjangan atau tidak dalam Ajuan SKBK.

Artikel pengelolaan siswa di Simpatika kali ini akan membahas tentang  6 hal sebagai berikut:

  1. Mengaktifkan Siswa Tahun Sebelumnya
    a. Siswa Naik Kelas
    b. Siswa Lulus
    c. Mutasi Siswa
  2. Memasukkan Siswa Baru
  3. Memasukkan Siswa Dalam Rombel
  4. Trik Cepat Memasukkan Siswa ke Rombel
  5. Trik Mengubah Format Tanggal di Excel Emis ke Simpatika
  6. Sinkronisasi Siswa di Emis dan Simpatika
Data Siswa Simpatika

Sekilas terlihat rumit. Namun sebenarnya proses dan tata cara mengelola siswa di layanan Simpatika sangat mudah.

1. Mengaktifkan Siswa Tahun Sebelumnya


Dalam mengelola siswa di layanan Simpatika, Operator Madrasah tidak perlu membuat data siswa setiap tahunnya. Karena siswa pada tahun sebelumnya akan otomatis berstatus sebagai "Siswa Belum Aktif Tahun Ajaran Sekarang".

Daftar siswa belum aktif ini cukup diunduh kemudian diedit pada tingkatan kelasnya (siswa naik kelas) dan dapat segera diupload kembali.

Jadi tidak dengan menambahkan atau membuat data siswa baru dari awal kembali.

Dalam proses mengaktifkan siswa yang belum aktif ini dapat juga dilakukan bersamaan dengan menambahkan siswa baru dan meluluskan siswa.

Cara mengaktifkan siswa belum aktif tahun ajaran sekarang (mengaktifkan siswa tahun sebelumnya) adalah sebagai berikut:

a. Mengunduh Daftar Siswa Tahun Sebelumnya
  1. Operator Madrasah atau Kepala Madrasah login ke Simpatika
  2. Pilih layanan Sekolah
  3. Setelah masuk ke Dasbor Sekolah, pilih menu "Siswa & Alumni" >> "Siswa" >> "Daftar Siswa"
  4. Klik "tanda panah ke bawah" untuk mengunduh daftar siswa tahun pelajaran yang lalu dalam format excel
  5. Data siswa tahun sebelumnya dapat juga diunduh melalui menu "Siswa & Alumni" >> "Siswa" >> "Daftar Siswa Belum Aktif Tahun Sekarang" lalu klik "tanda panah ke bawah"
  6. Simpan file excel hasil download tersebut

b. Mengedit Siswa

Mengedit Siswa meliputi menaikkan tingkat kelas siswa, dan meluluskan siswa.

Untuk mengedit data siswa di file excel yang telah diunduh tadi caranya adalah:
  1. Buka file excel yang telah diunduh
  2. Blok semua cell dan format menjadi "text"
  3. Untuk memudahkan pengeditan tingkat kelas, lakukan 'short' (pengurutan data) berdasarkan kelas.
  4. Untuk menaikkan tingkat kelas siswa, edit (ganti) tingkat kelas yang lama dengan tingkat kelas yang baru. Semisal yang tadinya kelas A menjadi B (pada RA), kelas 3 menjadi 4 (pada MI), kelas 8 menjadi 9 (pada MTs) dan sebagainya.
  5. Untuk meluluskan siswa, caranya:
    a. Pada RA, ganti tingkatnya menjadi 1
    b. Pada MI, ganti tingkat 6 menjadi 7
    c. Pada MTs, ganti tingkat 9 menjadi 10
    d. Pada MA, ganti tingkat 12 menjadi 13
  6. Siswa baru dapat langsung ditambahkan
  7. Simpan file excel
Yang harus diperhatikan ketika melakukan pengeditan siswa, adalah pada kolom kode sistem. Nomor yang tertera harus tetap dibiarkan seperti sedia kala (jangan dirubah).

Sedangkan untuk penambahan siswa baru, kolom Kode Sistem tidak perlu diisikan (dibiarkan kosong).

c. Mengupload Data Siswa

Setelah file excel data siswa selesai diisi / diedit, upload file tersebut dengan cara:
  1. Operator Madrasah atau Kepala Madrasah login ke Simpatika
  2. Pilih layanan Sekolah
  3. Setelah masuk ke Dasbor Sekolah, pilih menu "Siswa & Alumni" >> "Siswa" >> "Daftar Siswa"
  4. Klik tanda "panah ke atas" di pojok kanan atas
  5. Muncul jendela "Unggah Data Siswa", klik tombol "Pilih File"
  6. Muncul jendela pencarian file di komputer, cari file excel data siswa tadi, lalu klik "Open"
  7. Kembali ke jendela "Unggah Data Siswa". Klik "Unggah"
  8. Muncul notifikasi total jumlah siswa yang diupload dan pesan kesalahan
  9. Jika pesan kesalahanan berbunyi: "Tidak ada kesalahan dalam data", lanjutkan dengan mengklik tombol "Simpan"
  10. Jika muncul peringatan kesalahan, download file lalu lakukan perbaikan (kesalahan akan dituliskan di bagian kanan file excel)
  11. Setelah mengklik "Simpan" akan muncul pemberitahuan "Data Siswa Berhasil Dikirim dalam Antrian" dan diminta menunggu hingga 1 x 24 jam. Tetapi biasanya data siswa langsung masuk beberapa saat kemudian. Untuk mengecek silakan masuk ke menu "Siswa & Alumni" >> "Siswa" >> "Daftar Siswa"

3. Memasukkan Siswa Baru


Memasukkan siswa baru dapat dilakukan bersamaan dengan mengedit siswa tahun sebelumnya (sekaligus satu file). Namun dapat juga dengan menggunakan file tersendiri. Format file excel yang digunakan harus sama.

Cara upload file, sama dengan cara di atas.

Video Tutorial Mengaktifkan dan Memasukkan Siswa Baru

Tutorial cara mengedit siswa (meliputi menaikkan tingkat kelas siswa, dan meluluskan siswa), menambahkan siswa baru, dan mengupload data siswa dapat disimak di video tutorial berikut ini.

Video ini memang dibuat pada Oktober 2015 (saat awal-awal Padamu Negeri berganti menjadi Simpatika) tetapi tata cara dan prosedurnya masih tetap sama, sehingga video tutorial tersebut masih tetap relevan.


3. Memasukkan Siswa Dalam Rombel


Setelah siswa berhasil diunggah dan masuk ke "Daftar Siswa" bukan berarti pekerjaan mengelola siswa selesai. Siswa-siswa tersebut harus dimasukkan ke dalam rombongan belajar masing-masing. Siswa dalam rombongan belajar ini yang kemudian menjadi dasar penentuan rasio siswa dalam S25a maupun dalam SKMT & SKBK.

Untuk memasukkan siswa ke dalam rombelnya masing-masing caranya adalah seperti dalam video tutorial berikut ini.


4. Trik Cepat Memasukkan Siswa ke Rombel


Bagi madrasah yang memiliki banyak rombongan belajar, memasukkan siswa dalam rombel bisa jadi menjadi pekerjaan yang melelahkan dan menjemukan karena memerlukan ketelitian tinggi. Tentunya agar siswa dapat masuk di rombelnya masing-masing dengan tepat.

Bagi madrasah yang memiliki rombel lebih dari satu pada masing-masing tingkat kelasnya, ada trik cepat dan mudah.

Sebagai contoh, sebuah MTs terdiri atas beberapa rombel yang meliputi, kelas 7 tiga rombel (7A, 7B, dan 7C), kelas 8 terdiri atas 2 rombel (8A dan 8B), dan kelas 9 terdiri atas 3 rombel (9A, 9B, dan 9C).

Yang harus dilakukan adalah membagi file excel data siswa menjadi beberapa bagian. Upload siswa dalam satu rombel, lalu memasukkan siswa dalam rombelnya, baru mengupload siswa rombel lainnya. Sebagai gambaran simak ilustrasi berikut ini:
  1. Bagi siswa menjadi beberapa file. File pertama berisikan siswa yang telah lulus, siswa kelas 7A, 8A, dan 9A.
  2. Setelah berhasil diupload masukkan siswa-siswa tersebut ke rombelnya. Saat memasukkan siswa kelas 7, Operator tidak perlu memilih siswa karena semua siswa yang diupload adalah siswa kelas 7A saja, tidak ada siswa kelas 7B dan 7C.
  3. Lakukan hingga semua siswa masuk ke rombelnya.
  4. Setelah selesai upload lagi siswa. Tetapi sekarang ganti siswa dari kelas 7B, 8B, dan 9B
  5. Setelah berhasil diupload masukkan siswa-siswa tersebut ke rombelnya.
  6. Upload lagi siswa untuk kelas 7C dan 9C
  7. Masukkan siswa-siswa tersebut ke rombelnya.

5. Trik Mengubah Format Tanggal di Excel Emis ke Simpatika


Satu lagi trik adalah cara mengubah format tanggal di excel EMIS ke excel Simpatika. Perlu diketahui bahwa format tanggal yang digunakan EMIS dan Simpatika berbeda.

Simpatika menggunakan format Tahun-Bulan-Tanggal (YYYY-MM-DD) sedangkan Emis menggunakan format Tanggal-Bulan-Tahun (DD-MM-YYYY). Masalah lagi, keduanya harus berformat "Text" sehingga kita tidak bisa merubah format tanggal secara langsung di lembar kerja excel.

Dengan trik ini tentunya akan lebih mempercepat dan memudahkan kerja Operator Madrasah karena tidak harus membuat data baru. Operator cukup melakukan copy paste dari data excel Emis.

Nah, berikut ini adalah video tutorial cara mengubah format tanggal yang digunakan emis ke format tanggal yang digunakan Simpatika.


6. Sinkronisasi Siswa di Emis dan Simpatika


Nah, ini yang sangat diharap-harapkan oleh Operator se-Indonesia. Seandainya saja ada sinkronisasi antara Emis dan Simpatika, maka kerja operator akan semakin ringan.

Data siswa di Simpatika tidak perlu diupload secara manual, cukup dengan melakukan sinkronisasi dengan data emis, langsung terisi secara otomatis. 

Selain meringankan kerja operator, dengan sinkronisasi tersebut data siswa di Simpatika akan lebih valid. Ini mengingat bahwa selama ini, data siswa di Simpatika tidak melalui proses verifikasi dan validasi secara berjenjang. Operator dapat mengisikan berapapun siswa yang diinginkan. Proses verifikasi hanya bisa dilakukan oleh admin Kab/Kota ketika Kepala Madrasah melakukan Ajuan S25a dan SKMT/SKBK.

Namun kayaknya mimpi sinkronisasi Emis dan Simpatika ini masih panjang.

Demikianlah 6 hal terkait dengan pengelolaan data siswa di layanan Simpatika.

Read more

Monday, August 22, 2016

Cara Cetak S25a (Keaktifan Kolektif) Simpatika 2016/2017

Cara cetak S25a atau Ajuan Keaktifan Kolektif PTK di layanan Simpatika pada periode verval Semester Ganjil Tahun pelajaran 2016/2017, nyaris tidak berbeda dengan cara cetak S25a pada periode sebelumnya. Baik dalam hal tahapan, tata cara dan prosedur, maupun syarat mencetak Ajuan Keaktifan Kolektif PTK (Form S25a).

Namun karena beberapa pembaca menanyakannya, Simpatika Pati menuliskannya kembali syarat, tahapan, tata cara, dan prosedur Ajuan Keaktifan Kolektif PTK atau Cetak S25a.

Cetak S25a sendiri menjadi penanda seorang Kepala RA / Madrasah aktif untuk semester yang berjalan. Dengan melakukan cetak S25a, seorang Kepala RA/Madrasah pun dapat mencetak kartu digital Simpatika. Artinya, Kepala RA / Madrasah baru akan aktif dan dapat mencetak Kartu Digital Simpatika setelah melakukan Ajuan Keaktifan Kolektif PTK (Cetak S25a).

Cara Cetak S25a

1. Syarat untuk Mencetak S25a


Sebelum Kepala Madrasah melakukan cetak S25a, perhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Pastikan RA/Madrasah telah memiliki Kepala Madrasah aktif baik definitif atau Plt. Pengaktifan Kepala Madrasah hanya bisa dilakukan oleh Admin Kab/Kota dengan melakukan Ajuan A09.
  2. Pastikan semua PTK telah melakukan prosedur keaktifan diri dan mencetak kartu digital simpatika melalui akun PTK masing-masing. PTK yang telah melakukan keaktifan diri ditandai dengan bintang 4 berwarna kuning (bukan ungu) saat diceck di akun sekolah (pada menu Pendidik & Tenaga Kependidikan >> Direktori PTK >> Daftar Pendidik dan Tenaga Kependidikan) atau di menu pencarian Simpatika. Juga melalui akun PTK Kepala Madrasah di menu Keaktifan >> Data Guru dan Data Staf (PTK yang aktif statusnya berupa contreng hijau). Baca : Cara Mencetak Kartu Simpatika.
  3. Data siswa telah ditambahkan dan dimasukkan ke dalam rombel masing-masing. jadi selain melakukan upload data siswa (dan mengaktifkan/meluluskan siswa dari semester sebelumnya) juga telah memasukkan siswa-siswa tersebut ke dalam rombel masing-masing. Karena ini nanti terkait dengan rasio siswa dan guru sebagai salah satu penentu kelayakan menerima tunjangan bagi guru.
  4. Data beban tugas mengajar yang tertulis dalam Jadwal Mengajar Mingguan telah benar. Beban mengajar masing-masing guru ini dapat dicek langsung di akun sekolah (pada menu Jadwal Mengajar Mingguan), di akun setiap PTK, atau melalui akun PTK Kepala Madrasah (di menu Keaktifan >> Data Guru).
  5. Tugas tambahan guru, sebagaimana KMA No. 103 Tahun 2015, telah diisikan dengan benar. Tugas tambahan akan memiliki jam ekuivalen yang diperhitungkan dalam pemenuhan benan tugas mengajar dalam cetak SKBK. Tugas tambahan ini meliputi:
    1. Wakil Kepala Madrasah (bagi jenjang MTs dan MA)
    2. Wali Kelas
    3. Pembina Ekstrakurikuler
    4. Pembimbing Kokurikuler
    5. Guru Piket
    6. Kepala Perpustakaan dan Laboratorium
Kelima hal di atas harus sudah disikan dengan benar sebelum Kepala RA/Madrasah melakukan Ajuan Keaktifan Kolektif PTK (Cetak S25a). Karena setelah Kepala melakukan cetak S25a maka akses untuk melakukan perubahan atas kelima hal di atas akan tertutup. So, Jangan Cetak S25 sebelum hal tersebut beres!

Cara menambahkan Wali Kelas


Cara menambahkan pembina ekstrakurikuler, kokurikuler, dan guru piket



Cara menambahkan dan mengangkat Pejabat Madrasah (Wakil Kepala Madrasah, Kepala Perpustakaan/Laboratorium, Pembina Asrama, Ketua Program Keahlian, Kepala Bengkel, dan Kepala Unit Produksi)



2. Cara Melakukan Cetak S25a (Keaktifan Kolektif PTK)


Seperti pada periode verval sebelumhya, cetak ajuan Keaktifan Kolektif PTK hanya bisa dilakukan melalui login Kepala Madrasah masing-masing dengan memilih layanan Simpatika PTK (bukan Sekolah). Adapun cara cetak S25a adalah sebagai berikut:


  1. Kepala RA/Madrasah login ke Simpatika (situs http://simpatika.kemenag.go.id) >> "login" >> "login PTK/Admin"
  2. Tulis NUPTK/SiapId/email dan password lalu klik "Masuk"
  3. Pada layanan simpatika, pilih Layanan "PTK" (jangan Sekolah)
  4. Klik menu "Keaktifan Diri"
  5. Cek Rekap Data PTK yang meliputi "Data Guru" dan "Data Staf" (jika ada staf). Pastikan syarat sebagai tersebut di atas mulai nomor 2 s.d 5 telah terpenuhi dengan benar.
  6. Jika terdapat kekurangan atau kesalahan, tunda dulu ajuan Keaktifan Kolektif dan lakukan perbaikan data yang diperlukan.
  7. Jika sudah benar, klik menu "Ajukan Verval"
  8. Cetak S25a
Langkah-langkah di atas dapat juga disimak dalam video tutorial berikut ini.



3. Prosedur Selanjutnya


Setelah berhasil mencetak S25a, bukan berarti pekerjaan telah selesai. Lakukan tahapan dan prosedur berikut ini untuk menuntaskannya.

  1. Setelah dicetak setiap PTK membubuhkan paraf (tanda tangan) sebagai tanda bukti persetujuan pada lampiran S25a.
  2. S25a dan setiap lembar dari Lampiran S25a ditandatangani oleh Kepala RA/Madrasah dan distempel.
  3. Ajukan S25a tersebut ke Admin Kab/Kota untuk mendapatkan persetujuan. 
  4. Admin Kab/Kota kan melakukan verifikasi dan validasi.
  5. Jika disetujui, Admin Kab/Kota akan menerbitkan Tanda Bukti Penerimaan Ajuan Keaktifan Kolektif (S25b)
  6. Setelah S25a disetujui, maka:
    1. Kepala RA/Madrasah dapat mencetak Kartu Digital Simpatika
    2. Data Riwayat Mengajar setiap guru dipermanenkan sehingga tercantum dalam portofolio PTK masing-masing.
Jangan lupa untuk mendokumentasi (arsip) S25a baik berupa fisik ataupun file. Karena S25a tidak akan dapat dicetak ulang setelah mendapatkan persetujuan dari Admin Kab/Kota. Padahal seringkali S25a dijadikan salah satu persyaratan (berkas pelengkap) dalam berbagai keperluan.

4. Menu Ajuan S25a Tidak Muncul


Sampai saat tulisan ini dipublikasikan, menu Ajuan S25a di akun Kepala RA/Madrasah memang belum dimunculkan (masih dinonaktifkan). Sehingga bagi Kepala RA/Madrasah tidak perlu cemas ketika belum dapat melakukan Ajuan Cetak S25a.

Belum aktifnya menu Cetak S25a ini bukan karena komputer yang bermasalah atau kuota internet yang menipis, namun memang karena berbagai pertimbangan dari Tim Teknis Simpatika Pusat.

Kapan fitur Cetak S25a diaktifkan?

Jawabnya, wallahu a'lam bishawab!

Read more

Sunday, August 21, 2016

Cara Ajuan Ijin Belajar (Merubah Staf Menjadi Guru Kembali)

Cara melakukan ajuan ijin belajar bagi guru yang kualifikasi pendidikannya belum S1 ini sekaligus merupakan cara merubah PTK yang otomatis menjadi staf kembali lagi menjafi guru. Dengan menjadi guru kembali secara otomatis PTK tersebut dapat diberikan jam mengajar saat mengisikan Jadwal Mengajar Mingguan di Simpatika.

Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005, kualifikasi pendidikan seorang guru, minimal adalah D4/S1. sehingga bagi guru yang belum D4/S1, oleh Simpatika akan otomatis dirubah menjadi tenaga kependidikan (staf).

Karena menjadi staf, maka guru tersebut tidak akan muncul saat pengisian Jadwal Mengajar Mingguan. Atau dengan kata lain tidak dapat diberikan jam mengajar.

Mulai periode Verval Simpatika Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2016/2017, Simpatika meluncurkan fitur baru yakni, Ajuan Ijin Belajar. Baca: Fitur dan Agenda Kegiatan Simpatika Semester 1 Tahun 2016/2017

Cara mengajukan Ijin Belajar

Dengan fitur Ajuan Ijin Belajar ini, seorang guru yang belum mencapai kualifikasi pendidikan D4/S1 dapat tetap mengajar (berstatus sebagai guru) di layanan Simpatika. Dengan fitur ajuan ijin belajar ini guru yang sebelumnya telah otomatis berubah menjadi staf (karena kualifikasi pendidikan belum D4/S1) dapat dirubah kembali menjadi guru.

Tutorial Cara Melakukan Ajuan Ijin Belajar


Bagaimana cara mengajukan ijin belajar bagi guru yang belum berkualifikasi pendidikan D4/S1?

Cara melakukan ajuan ijin belajar sekaligus merubah kembali staf menjadi guru adalah sebagai berikut:

  1. Login ke akun PTK yang bersangkutan
  2. Akan muncul beberapa notifikasi. salah satunya "Ajuan Ijin Belajar"
  3. Pada notifikasi Ajuan Ijin Belajar, di bagian bawah klik "Ajukan Ijin Belajar"


Ajuan Ijin Belajar

Selesai.

Sampai di sini, status PTK tersebut akan otomatis berubah dari yang semula staf menjadi guru kembali. PTK tersebut pun dapat diberikan jam mengajar pada isian Jadwal Mengajar Mingguan.

Namun, diperlukan langkah lanjutan agar status guru tersebut dapat terus melekat dan tidak berubah kembali menjadi staf.

Langkah-langkah yang dimaksud (untuk mempertahankan statusnya tetap guru) adalah dengan melakukan perubahan data riwayat pendidikan (cetak S12). Tambahkan riwayat pendidikan S1 yang tengah ditempuh. Caranya adalah:

  1. Pada akun PTK yang bersangkutan
  2. Klik menu Pendidikan >> Riwayat Pendidikan
  3. Klik tanda plus (+) di pojok kanan atas
  4. Muncul isian Tambah Riwayat Pendidikan
  5. Isikan kolom-kolom yang tersedia seperti: jenjang pendidikan dll
  6. Khusus untuk kolom tahun lulus, biarkan kosong (karena belum lulus)
  7. Klik tambahkan
  8. Klik Jadikan Permanen
  9. Muncul jendela Pengajuan Perubahan Data
  10. Centang kotak di depan penyataan lalu klik Setuju dan Cetak Ajuan
  11. Muncul Form S12 (Perubahan Data)
  12. Cetak S12 tersebut
  13. Serahkan S12 tersebut ke admin Simpatika Kab/Kota dengan dilampiri Surat Keterangan Sedang Menempuh S1 dari Perguruan Tinggi tempat PTK belajar


Jika kurang jelas dengan langkah-langkah di atas, simak video tutorial cara mengajukan ijin belajar berikut ini.



Demikianlah cara ajuan ijin belajar sekaligus merubah staf menjadi guru kembali dalam layanan Simpatika. Semoga tutorial ini bermanfaat.

Read more

Friday, August 19, 2016

Guru Bersertikat Mapel Mengajar Guru Kelas, Sudahkah Linier?

Dengan ditetapkannya Keputusan Menteri Agama Nomor 303 Tahun 2016 tentang Konversi Guru pada Jenjang Satuan Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, maka guru-guru yang telah memiliki sertifikat pendidik mata pelajaran, dapat mengampu sebagai guru kelas MI. Pertanyaannya adalah, apakah Simpatika telah mengakomodir hal tersebut?

Jika KMA Nomor 303 Tahun 2016 tersebut diakomodir oleh Simpatika maka dalam cetak SKMT-SKBK yang diajukan oleh guru mapel yang mengampu guru kelas akan tercatat sebagai linier. Dan hasil akhirnya, jika memenuhi persyaratan lainnya, maka guru tersebut mendapatkan notifikasi 'layak mendapat tunjangan' dalam SKBK-nya.

Tetapi kembali ke pertanyaan awal, apakah guru dengan sertifikat pendidik mata pelajaran yang kemudian diberikan tugas sebagai guru kelas sudah diakui oleh Simpatika dan dianggap linier?

Linieritas Guru Mapel Jadi Guru Kelas

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, admin Simpatika Pati mencoba melakukan pengecekan langsung dengan akun seorang PTK yang memiliki sertifikat pendidik Seni dan Budaya. Pendidik tersebut kebetulan mengajar di sebuah Madrasah Ibtidayah.

NRG pendidik tersebut pun telah permanen (telah tuntas dalam Verval NRG).

Bahkan pada dua tahun 2014 telah menerima tunjangan profesi dari mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan yang diampunya di MI tersebut.

Dengan ditetapkannya KMA Nomor 303 Tahun 2016 tentang Konversi Guru pada Jenjang Satuan Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, yang bersangkutan kemudian diangkat sebagai Guru Kelas V di satminkalnya.

Hasil Cek Linieritas Guru Bersertikat Mapel mengampu Guru Kelas


Untuk mengecek hasil linieritas guru mata pelajaran Seni Budaya saat mengampu sebagai guru kelas, tentunya terlebih dahulu guru tersebut diangkat sebagai wali kelas dan diisikan jadwal mengajar mingguan di kelasnya tersebut. Termasuk mengisikan daftar siswa pada rombongan belajarnya.

Setelah semua proses itu diselesaikan, akhirnya Simpatika pati melakukan pengecekan linieritas mata pelajaran Sang Pendidik.

Hasilnya adalah sebagaimana terekan dalam video berikut ini.



Ternyata mata pelajaran yang diampu oleh guru dengan sertifikat pendidik Seni dan Budaya tersebut masih dianggap tidak linier oleh Simpatika. Mulai dari mata pelajaran pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial dinyatakan sebagai tidak linier. Juga pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan dan Mulok Bahasa Daerah, masih dinyatakan belum linier juga.

satu-satunya mata pelajaran yang telah dianggap liniewr adalah Seni Budaya dan Keterampilan yang memang sesuai dengan sertifikat pendidik dan NRG yang dimiliki oleh guru tersebut.

Kesimpulannya, sampai saat tulisan ini dimuat, guru dengan sertifikat pendidik mata pelajaran belum linier ketika mengampu sebagai guru kelas.

Namun karena KMA Nomor 303 Tahun 2016 merupakan produk hukum yang sah, seharusnya Simpatika segera mengakomodirnya.

Menurut Admin Pusat Simpatika, sebagaimana Simpatika Pati kutip dari Fans Page Simpatika, mengungkapkan bahwa KMA 303 Tahun 2016 tidak serta merta mengijinkan semua mata pelajaran umum sertifikasi dikonversi menjadi guru kelas. Dibutuhkan penjelasan secara lebih rinci melalui aturan teknis dari Dirjen Pendis. Dan Tim Simpatika tengah menunggu terbitnya aturan resmi dari Dirjen Pendis tersebut untuk menetapkan linieritas guru mapel yang mengajar sebagai guru kelas di Madrasah Ibtidaiyah.

Semoga aturan teknis dari Dirjen Pendis terkait konversi guru mapel menjadi guru kelas tersebut secepatnya diterbitkan dan membawa angin segar bagi guru-guru madrasah.

Semoga ketidak-linieran tersebut hanya sementara saja. Kita tunggu saja beberapa hari ke depan sehingga pertanyaan, Guru dengan sertifikat mapel yang mengajar sebagai guru kelas, sudahkah linier? dapat dijawab dengan tegas: linier! Semoga.
Read more

Thursday, August 4, 2016

Penambahan 4 JTM dan Kaitannya dengan Linieritas SKBK

Pada periode Verval Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017, Simpatika merilis aturan baru yakni penambahan hingga 4 JTM (Jam Tatap Muka) perminggu bagi Madrasah yang menyelenggarakan kurikulum KTSP. Sebagaimana telah dibahas oleh Simpatika Pati dalam artikel Fitur dan Agenda Kegiatan Simpatika Semester 1 Tahun 2016/2017, madrasah-madrasah pengguna KTSP diberikan kesempatakan untuk menambahkan hingga 4 Jam Tatap Muka perminggunya dalam isian Jadwal Mengajar Mingguan di layanan Simpatika.

Fitur dan aturan baru ini akan dirilis mulai tanggal 8 Agustus 2016.

Penambahan 4 JTM dan pengaruhnya


Pertanyaannya kemudian adalah:

  • Mata pelajaran apa saja yang bisa ditambahkan dari total penambahan 4 JTM tersebut?
  • Bolehkah menambahkan mata pelajaran yang tidak tertuang dalam struktur kurikulum?
  • Bagaimana kaitannya dengan linieritas SKMT dan SKBK?
Ketentuan untuk dapat menambahkan hingga 4 JTM ini tampaknya mengakomodir Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006. Dalam Permendiknas tersebut memang memungkinkan untuk melakukan penambahan Jam Tatap Muka hingga maksimal 4 JTM perminggunya.

Permasalahan penambahan 4 JTM ini pada periode Verval Simpatika sebelumnya pun sempat menjadikan pro dan kontra tersendiri.

Pertanyaan-pertanyaan Terkait dengan Penambahan 4 JTM


Penambahan 4 JTM  pada madrasah yang menggunakan KTSP memang baru akan diberlakukan mulai 8 Agustus besok. Namun sejumlah pertanyaan sebagaimana Simpatika Pati tulis di awal artikel ini telah mengemuka.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan penambahan hingga 4 jam tatap muka tersebut, Admin Simpatika berusaha menghubungi CS Simpatika pusat melalui layanan chating.

Hasil chating tersebut adalah sebagai berikut ini:

Chat started on 04 Aug 2016, 03:42 AM (GMT+0)
(03:42:14) *** Alam Endah joined the chat ***
(03:42:14) Alam Endah: Selamat pagi, mohon bantuannya. Untuk pengisian Jadwal Mengajar Mingguan pada madrasah yang menggunakan KTSP kan diberi kebebasan untuk menambah hingga 4 JTM. Penambahan 4 JTM tersebut hanya pada mapel2 yang terdaftar dalam struktur kurikulum atau boleh dengan menambahkan mapel lain, semisal muatan lokal?
(03:42:21) *** Cs SIAP Online joined the chat ***
(03:42:29) Cs SIAP Online: selamat pagi
(03:42:58) Cs SIAP Online: sebentar kami cek dulu, mohon menunggu
(03:43:52) Alam Endah: siap
(03:46:56) Cs SIAP Online: terima kasih telah menunggu sampai saat ini kami hanya menemukan pada aturannya untuk KTSP, bisa menambah 4 jam bebas
(03:47:05) Cs SIAP Online: bisa pada mapel manapun
(03:47:16) Cs SIAP Online: hanya untuk yg menerapkan K13 yang dibatasi
(03:50:05) Alam Endah: Seumpama dalam stryuktur kurikulum Matematika kelas 6 MI, 5 JTM. Kemudian ditambah dgn 2 JTM menjadi 7 JTM. Apakah nanti dalam SKMT/SKBK yang digitung linier 7 JTM ataukah hanya 5 JTM?
(03:51:18) Cs SIAP Online: tentu saja 7 JTM
(03:52:47) Alam Endah: Seumpama jam tambahan yang 4 JTM tersebut digunakan untuk mapel baru yang tidak ada dalam struktur kurikulum, seperti muatan lokal bahasa Inggris atau Baca Tulis Al Quran, apakah bisa?
(03:53:20) Cs SIAP Online: bisa saja, namun mungkin nantinya akan tidak linier

Hasil chating tersebut juga saya dokumentasikan dalam screenshoot sebagaimana berikut:

Penambahan 4 JTM dan pengaruhnya

Penambahan 4 JTM dan pengaruhnya

Lalu apa kesimpulannya? Silakan dicermati sendiri dari jawaban yang diberikan.

Untuk kepastian dari ketentuan terkait penambahan 4 JTM dalam KTSP tentu kita harus menunggu hingga fitur ini benar-benar diaktifkan.
Read more